Jaksa Bisa Banding

Vonis Ringan Residivis, Pakar Hukum Sebut Hakim Dede Suryaman Teledor

Dr. M. Sholehuddin
Dr. M. Sholehuddin

Surabaya, Akuratnews.com - Vonis ringan residivis, 4,5 tahun penjara oleh hakim Dede Suryaman, terhadap Alan anak dari Toni Denisend, terdakwa yang membawa 17 butir ineks, mendapat kritikan dari pakar hukum pidana.

Menurut ahli hukum pidana, Dr. M. Sholehuddin, vonis 4,5 tahun yang dijatuhkan terhadap Alan seharusnya lebih tinggi dari hukuman yang sebelumnya. Mengingat pada 2016 silam ia pernah dijatuhi hukuman 10 tahun penjara.

"Mestinya hakim dalam memidana residivis itu, harus lebih tinggi dari yang pertama ia ( terdakwa ) diadili. Karena ia mengulang," ungkap Sholehuddin, saat dihubungi melalui ponselnya. Rabu (5/5/21).

BACA JUGA : Pengamat Hukum Trisakti Radian Syam Sebut Rumus Jitu Bela Negara Bagi Milenial 

Terkait penambahan masa hukuman, Sholehuddin mengatakan, hal tersebut merupakan kewenangan hakim, tanpa perlu melihat ancaman pidana dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

"Kalau residiv, hakim harus melihat dia itu waktu melakukan perbuatan pertama dan sudah diadili itu, kena berapa tahun hukumannya. Dan harus lebih tinggi dari hukuman sebelumnya itu," terangnya.

Ahli Pidana Universitas Bhayangkara (Ubhara) tersebut menegaskan, masalah vonis ringan residivis itu, merupakan kesalahan Hakim.

"Itu hakim salah, dalam memutuskan hukuman 4,5 tahun itu, karena terdakwa merupakan residivis. Jadi Hakim teledor," tegas Sholehuddin.

Dr. M. Sholehuddin juga menambahkan, JPU Suparlan seharusnya bisa melakukan banding. "Jaksa itu seharusnya bisa mengajukan banding," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan Alan, residivis pengedar sabu, yang kembali menjadi terdakwa karena kedapatan membawa 17 butir pil ekstasi, divonis 4,5 tahun penjara.

Dalam vonisnya, majelis hakim yang diketuai Dede Suryaman, di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menyatakan, terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 112 KUHP Undang - Undang Narkotika.

Namun pada vonisnya tersebut, majelis hakim tidak menjadikan status terdakwa yang merupakan residivis pengedar sabu, sebagai pertimbangan yang memberatkan hukumannya.

Perlu diketahui, sebelumnya Alan pernah ditangkap dan divonis 10 tahun penjara pada 2016 silam atas kasus peredaran narkoba jenis sabu. Namun baru saja menghirup udara bebas pada Oktober 2020, terdakwa kembali dibekuk polisi sebulan kemudian, setelah ia memesan 40 butir ineks. Dengan rincian sebanyak 23 telah digunakan dan sisanya 17 butir berhasil diamankan polisi.

Penulis:

Baca Juga