Opini

Wajah Pesisir Labuhanbatu yang Selalu di Anak Tirikan

Najib Gunawan
Najib Gunawan

Akuratnews.com - Oktober mendatang, usia Kabupaten Labuhanbatu genap 75 tahun. Usia yang sangat matang untuk ukuran perjalanan hidup.

Namun, sadarkah para pemimpin negeri berjuluk Ika Bina En Pabolo ini bahwa hampir seluruh wilayah pesisirnya bagai “Di-Anak Tiri-Kan” minimnya pembangunan jalan.

Musim berganti, sudah pula 19 kepala daerah berganti sejak berdirinya kabupaten penghasil kelapa sawit dan karet dengan seabrek kekayaan lautnya. Tetapi, pembangunan khususnya jalan untuk wilayah pesisir bagai dikesampingkan.

Lihat saja jalanan di wilayah ini! Jika musim penghujan, bukan cuma becek dan kubangan menjadi pemandangan. Bahkan banyak ditemukan jalan menyerupai kolam. Sedangkan, kala musim kemarau, kesehatan warganya juga terganggu akibat debu dimana-mana.

Jika persoalan ini diabaikan dari tahun ke tahun, maka ratusan ribu warga pesisir yang menggantungkan hidup dari berkebun, bertani, dan nelayan dipastikan tidak akan bangkit perekonomiannya.

Sebab, kala musim penghujan hasil bumi mereka sulit untuk diangkut ke pasar karena kondisi hancurnya jalan. Yang pasti, harga komoditi kelapa sawit, karet, padi, palawija, bahkan hasil tangkapan ikan laut anjlok seanjlok-anjloknya.

Contoh kecil, rata-rata desa di wilayah pesisir ini penghasil padi. Jika musim panen tiba dikala musim penghujan, petani justru dihantui tengkulak. Anjloknya harga jual membuat petani hanya menjadi sapi perah.

Belum lagi para petani padi harus ikhlas menonton para tengkulak memboyong hasil padi mereka ke luar daerah melalui jalur laut hingga ke kabupaten tetangga. Kemudian, beras yang telah dikemas oleh para tengkulak kembali dijual ke wilayah asal padi ditanam.

Lalu siapa pemimpin yang bisa mengubah wajah pesisir menjadi lebih produktif dalam segala hal? Kini, musim kembali bergulir dan masyarakat kembali disuguhkan pesta demokrasi Pilkada.

Wajah pesisir pun menjadi rebutan meraup suara. Beragam janji dari para calon pemimpin yang telah mentasbihkan diri untuk bertarung menuju “Labuhanbatu Satu” dengan segudang iming-iming perubahan.

Akankah masyarakat pesisir kembali menelan pil pahit janji-janji itu. Sebab, mereka merindukan pemimpin membawa perubahan, bukan bualan.

Penulis: Najib Gunawan

Baca Juga