Pasar Modal

Was-was Resesi Datang, Emas Jadi Tujuan Investasi

Emas Batangan
Emas Batangan (Istimewa)

Akuratnews.com - Bursa saham AS sebagian besar mengalami penurunan dalam perdagangan di awal minggu ini. Ada kekhawatiran yang menghinggapi pelaku pasar, menyusul penurunan imbal hasil obligasi AS yang menimbulkan perasaan was-was akan datangnya resesi ekonomi.

Imbal hasil obligasi memperpanjang penurunannya sejak minggu lalu, hal ini menjadi sumber tekanan pasar secara luas. Meskipun sejumlah analis telah memberikan pandangan yang optimis dengan pertumbuhan ekonomi internasional, masih saja perdagangan di bursa saham AS dalam tekanan. Indek S&P 500 berakhir dengan turun 0,08%, Indek Dow Jones naik 0,06% dan Indek Nasdaq turun 0,07%.

Jatuhnya bursa saham AS sebelumnya juga telah menjadi sentiment negatif bagi perdagangan di bursa saham Asia. Bursa saham Hong Kong, Indek Hang Seng mengalami kerugian tertajam dalam lebih dari dua bulan. Sentimen risk-appetite berkurang karena kekhawatiran baru atas pertumbuhan ekonomi global. Indek bursa saham AS merosot minggu lalu dikarenakan data awal atas aktivitas manufaktur dan jasa AS menunjukkan perlambatan pada bulan Februari, sementara produksi manufaktur Jerman mengalami kontraksi untuk bulan ketiga berturut-turut.

Bursa saham Tokyo jatuh dimana indeks Nikkei 225 mencatat kerugian terbesar sejak 25 Desember. Investor khawatiran dengan kondisi ekonomi global dan menjual saham di tengah kekhawatiran meningkatnya resesi AS, sehingga membuat yields global jatuh. Investor kembali melakukan risk-aversion, seiring dengan dirilisnya serangkaian data ekonomi. Kekhawatiran tentang resesi ekonomi global kembali menjadi momok utama pasar.

Sementara dalam perdagangan di bursa saham Seoul Korea Selatan memperpanjang kerugian dengan jatuh hampir 2 %. Ini merupakan penurunan harian paling tajam sejak 23 Oktober tahun lalu, karena kekhawatiran perlambatan ekonomi global membuat para investor ketakutan. Disisi lain, bank sentral Korea Selatan mengatakan bank mungkin mengubah sikap hati-hati saat ini tentang kebijakan moneter jika “sentimen pemulihan” memburuk secara signifikan, menandakan bank itu bisa melonggarkan kebijakan jika diperlukan.

Dolar Ikut Melemah, Poundsterling Makin Kuat

Pada perdagangan mata uang, pasangan EURUSD naik lebih lanjut dan mencapai level tertinggi baru di 1,1330. Euro dalam bias kenaikannya dimana kenaikan kali ini didukung oleh penurunan dolar AS. Dolar AS terkoreksi setelah reli pad akhir pekan. Indeks dolar turun dari 96,65 menjadi 96,44, memangkas kenaikan pekan lalu. EURUSD menerima dorongan menyusul laporan IFO Jerman dan kemudian naik lebih lanjut di belakang melemahnya dolar AS. Pergerakan jangka pendek berpusat di sekitar faktor pertumbuhan global dan pasar berisiko.

Sementara GBPUSD masih berada di sekitar level 1,3200, dimana aksi beli terjadi menjelang pemungutan suara pada amandemen Brexit. Parlemen sebelumnya telah menolak semua proposal PM Inggris Theresa May dan menyebabkan ketidakpastian Brexit. GBPUSD mendapatkan keuntungan dari melemahnya dolar AS. Poundsterling naik setelah anggota parlemen mendukung amandemen A, yang berupaya untuk mengambil kendali parlemen dan memegang suara indikatif pada opsi Brexit. Lewat amandemen ini, akan membuka jalan bagi pemungutan kembali pada Rabu besok guna memberikan arah penyelesaian Brexit yang lebih berarti.

Aussie memulai perdagangan dengan nuansa positif dimana pasangan AUDUSD terangkat ke level tertinggi harian baru di atas 0,7100. Kekhawatiran atas perlambatan global, khususnya dalam ekonomi China tetap menjadi fokus, meskipun komentar baru-baru ini dari pejabat China telah menekankan kapasitas ekonomi untuk menghadapi tekanan turun, semua memberikan potensi bearish kepada AUD. Risk-appetite terus mendorong mata uang komoditas ini, di mana perundingan perdagangan AS-China tetap menjadi katalis pergerakan harga.

Dolar sendiri terhadap Yen Jepang masih berada di bawah level kritis 110 tepatnya di level 109,90. Pasangan USDJPY menurun dengan penurunan imbal obligasi dan bursa saham. Ini menunjukkan kepedulian pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global. Jika ini adalah tren yang akan berlanjut, Yen akan menguat jika harga komoditas terus terkoreksi, mengurangi momentum kenaikan yang telah dibuat di 2019 ini. Yen Jepang mendekati level tertinggi dalam enam minggu dan bergerak untuk kenaikan terbesar mereka sejak Januari, oleh aksi beli Yen sebagai mata uang safe-haven.

Emas Menjadi Tujuan Pengamanan Investasi

Mengawali perdagangan minggu ini, harga emas mengalami lonjakan. Pasar keuangan global terperosok dalam perdagangan yang tidak likuid setelah bentang jarak antara imbal hasil Obligasi AS tenor 3 bulan dan 10-tahun terbalik. Mengisyaratkan potensi terjadinya resesi di AS.

Sebagai pelawan komoditas emas, perdagangan saham dan dolar AS bergerak seiring turun. Setidaknya dengan potensi gangguan dalam pertumbuhan ekonomi AS, sebagaimana tercermin dalam sikap kehati-hatian Bank Sentral AS dalam menaikkan suku bunga, ditambah perkembangan perundingan perdagangan AS – China.

Investor enggan mengambil resiko untuk mendiversifikasi portofolio mereka. Emas akan mendapat peluang kenaikan lebih lanjut dan berusaha menjangkau $1350 sebagai target tahun ini. Peluang membesar, apabila mampu bertahan diatas $1300. Emas akan terkonsolidasi di $1320. (HQM)

Penulis:

Baca Juga