Ada 7 Negara yang Akan Rugi Jika Donald Trump Kalah di Pilpres AS

Donald Trump

Jakarta, Akuratnews.com - Pemilihan presiden (pilpres) 2020 di Amerika Serikat (AS) tinggal menghitung hari. Berdasarkan rencana, pemilihan umum tersebut akan dilaksanakan pada 2 November atau paling lambat 8 November 2020 mendatang. Ada dua calon presiden yang akan berlaga pada Pilpres AS kali ini, Joe Biden dan petahana, Donald Trump.

Dikutip dari laman SCMP, empat tahun masa jabatan Donald Trump sebelumnya ternyata telah menguntungkan beberapa negara karena kebijakan yang dikeluarkannya. Bahkan menurut Joe Biden pada acara balai kota baru-baru ini, Donald Trump adalah seorang pemimpin yang merangkul semua 'preman' di dunia.

Berikut 7 negara yang diramalkan akan terkena dampak jika Donald Trump kalah dalam pemilihan presiden 2020.

1. Kim Jong Un dari Korea Utara
Di antara semua negara, Korea Utara adalah negara yang dianggap akan terkena dampak cukup besar jika Donald Trump menghadapi kekalahan. Hubungan kedua negara yang dimulai dengan ancaman dan 'penghinaan' tersebut berubah menjadi hal baik belakangan ini.

Donald Trump dan pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un bahkan sempat bertemu selama tiga kali. Juga kerap bertukar surat sebagai tanda bahwa reaksi mereka sangat baik.

Meski demikian, pendekatan AS pernah gagal saat Korea Utara meluncurkan denuklirisasi rudal balistik antar benua pada 10 Oktober 2020 lalu.

Berbeda dengan Donald Trump, Joe Biden mengatakan dalam kampanye bahwa ia tidak akan bertemu tanpa prasyarat dengan Kim Jong Un. Bahkan kecil kemungkinan akan mencabut sanksi AS kepada Korea Utara yang berlaku selama ini. Padahal hukuman tersebut berakibat resesi ekonomi terburuk di Korea Utara dalam dua dekade lebih.

2. Mohammed bin Salman dari Arab Saudi
Donald Trump membangun hubungan internasional yang cukup baik dengan Arab Saudi. Ia pun memilih Riyadh untuk kunjungan luar negeri pertamanya pada 2017 lalu. Presiden tersebut disambut dengan cukup megah di hotel tempatnya menginap oleh pihak Arab Saudi.

Putra mahkota Mohammed bin Salman juga memiliki keuntungan penting dari kunjungan itu sebab Donald Trump akhirnya mencabut kesepakatan nuklir tahun 2015 dengan Iran sebagai negara pesaing Arab Saudi.

Tak hanya itu, Donald Trump sempat menawarkan dukungan pribadi dan menolak sanksi kongres saat Arab Saudi dikepung oleh sejumlah negara mengenai pembunuhan kritikus terkemuka, Khashoggi pada 2018 lalu.

Ada kekecewaan bagi Arab Saudi jika pilpres dimenangkan oleh Joe Biden sebab fokus AS diprediksi akan beralih pada hak asasi manusia. Ditambah, 'pintu terbuka' untuk menghidupkan kembali kesepakatan dengan Iran yang dibatalkan oleh Donald Trump.

3. Recep Tayyip Erdogan dari Turki
Jika ada yang lebih mengandalkan Donald Trump untuk perlindungan politik, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan-lah orangnya.

Hubungan kedua pemimpin negara itu dikenal cukup baik bahkan bisa membuat Erdogan membujuk Donald Trump untuk menarik pasukan AS dari daerah Kurdi, Suriah utara sehingga Turki bisa menguasai zona tersebut.

Keputusan itu pun diambil oleh Donald Trump tanpa keputusan yang didiskusikan terlebih dahulu dengan Penatgon atau sekutu AS dalam perang melawan ISIS di Suriah. Namun jika Joe Biden menjabat sebagai presiden, kemungkinan AS akan memberikan sanksi yang merugikan Erdogan.

4. Xi Jinping dari China
Donald Trump secara agresif melayangkan berbagai asumsinya terkait China, khususnya saat virus corona baru (Covid-19) mulai menjangkit hampir seluruh dunia. Ia kemudian menerapkan tarif lebih tinggi terhadap barang-barang asal China dan membatasi teknologi yang berasal dari negara tersebut.

Namun para pejabat China mengatakan bahwa mereka berharap kepemimpinan Donald Trump dapat bertahan. Sebab Donald Trump sempat mengguncang sistem aliansi pasca-Perang Dunia II yang dipandang China sebagai kendala terbesar dalam bidang geopolitiknya.

Tak hanya itu, keputusan sang Presiden untuk keluar dari kebijakan 'America First' membuka celah untuk China mengisi kekosongan tersebut dalam sektor perdagangan hingga perubahan iklim. Kekhawatiran China jika Joe Biden menjabat yakni adanya upaya baru untuk membuat AS menjadi front internasional yang lebih terkoordinasi untuk 'menangani' China. Akibatnya, perdagangan dan teknologi yang telah dibangun oleh negara itu kembali diambil alih.

5. Vladimir Putin dari Rusia
Dugaan campur tangan Rusia dalam pemilu 2016 menghasilkan penyelidikan resmi AS dengan laporan setebal 448 halaman.

Namun dalam beberapa hal, Putin mendapatkan keuntungan saat Donald Trump menjabat. Mulai dari pencabutan sanksi internasional hingga kemajuan dalam pengendalian senjata.

Jika Joe Biden terpilih, pejabat Rusia mengatakan prospek dalam bidang tersebut menjadi lebih berkurang.

6. Jair Bolsonaro dari Brazil
Bagi Presiden Brazil, Donald Trump tampaknya menjadi 'belahan jiwa' politik. Namun jika Joe Biden menjabat, ia khawatir akan memiliki hubungan yang kurang baik dengan AS.

Sejak menjabat pada 2019 lalu, Bolsonaro telah mengubah tradisi lama kebijakan luar negeri Brazil selama puluhan tahun untuk sesuai dengan AS dan sekutunya. Sebagai imbalannya maka Donald Trump mencabut larangan impor daging sapi segar yang mendukung Brazil untuk bergabung dengan organisasi bernama Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan.

Berkat Donald Trump, Brazil pun berhasil menandangatani kesepakatan untuk kerja sama pertahanan dan eksplorasi ruang angkasa. Namun bila Joe Biden menjabat, diprediksi akan ada pertentangan yang kuat antara Brazil dengan AS disertai konsekuensi dalam bidang ekonomi.

7. Benjamin Netanyahu dari Israel
Cukup banyak pihak khawatir bahwa Israel akan menghadapi pengawasan lebih ketat di bawah pemerintahan Joe Biden. Calon presiden tersebut mungkin akan memulai kesepakatan antara AS dan Iran terkait nuklir yang nantinya diprediksi merugikan Israel.

Penulis: Redaksi

Baca Juga