Opini

Apa Kabar Anak-Anak Indonesia

Akuratnews.com - Baru-baru ini ditemukan hal yang mengejutkan bahwa tingkat kematian anak akibat Covid-19 di Tanah Air merupakan yang tertinggi di negara ASEAN, dilansir VOA Indonesia, Ketua Ikatan Doker Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan mengatakan yang demikian. Hal ini tentu bukanlah prestasi.

"Kalau dibandingkan negara lain, kita paling tinggi (tingkat kematian) dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Vietnam," ungkap Aman. (Kompas.com, 4/6/2020)

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga Sabtu (30/5/2020), terdapat 1.851 kasus Covid-19 pada anak berusia kurang dari 18 tahun. Kasus tertinggi dilaporkan terjadi di DKI Jakarta (333 kasus), Jawa Timur (306 kasus), Sumatera Selatan (181 kasus), Sulawesi Selatan (151 kasus), Jawa Tengah (100 kasus), dan Nusa Tenggara Barat (84 kasus).

Dari jumlah tersebut, terdapat 29 kasus kematian akibat corona pada anak yang dilaporkan, sebagian besar karena terlambat deteksi, sehingga datang ke rumah sakit dalam kondisi berat. Di samping itu komorbit atau penyakit penyerta, seperti kurang gizi, anemia, tengkes, diare, dan pneumonia menjadi faktor penunjang mudahnya terinfeksi virus.

Risiko penularan pada anak semakin tinggi, juga dianggap akibat tidak taatnya masyarakat terhadap protokol Covid. Melalui pengasuh atau orang tua yang beraktivitas di luar, virus turut serta masuk ke dalam rumah. Namun sejatinya bukan hanya itu, hal ini tentu tidak luput dari penerapan new normal yang digadang-gadang sebagai solusi hidup di tengah pandemi.

Protokol Covid hanya sebagian kecil upaya yang mampu ditegakkan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan vaksin, layanan kesehatan yang mudah dan terjangkau, serta upaya sungguh-sungguh dari penguasa untuk memutus rantai penyebaran virus, yang semuanya itu merupakan tanggung jawab negara.

Orang tua yang beraktivitas di luar, atau para pengasuh yang juga dari luar rumah, tidak bisa sepenuhnya dijadikan penyebab. Karena ketiadaan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok warga, menyebabkan mereka mencari nafkah. Padahal di tengah pandemi, mereka riskan tertular. Betapa tidak, sebab mereka secara langsung terpapar virus.

Belum lagi wacana hidup berdamai dengan virus, membuat Covid 19 yang menjadi common enemy di seluruh negara, tampak diberi ruang di bumi pertiwi. Ketidakmampuan negara mengatasi persoalan pandemi menghasilkan kebijakan yang tidak tepat. Siapapun tentu tidak ingin tertular, maka sulit membayangkan jika hal ini disebut sebagai kehidupan normal yang baru.

Berbeda dengan Islam yang memperlakukan wabah seperti singa, yang kita harus lari darinya. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari secara mua'llaq dari hadits Abu Hurairah dari Nabi Muhammad bahwa beliau bersabda:

"Hindarilah orang yang terkena lepra seperti halnya kalian menghindari seekor singa."

Lepra kala itu menjadi penyakit yang mewabah, cepat menular, karenanya instruksi Rasulullah adalah karantina. Menutup wilayah pandemi agar tidak ada orang yang ke luar atau masuk. Masyarakat pegunungan, tidak menghampiri yang tinggal di pantai, begitupun sebaliknya. Menutup interaksi antar manusia hingga wabah bisa dikendalikan.

Karenanya agar terbebas dari pandemi, tak cukup hanya dengan mengubah kebiasaan hidup sehat. Negara punya andil besar untuk mengatur masyarakat, melindungi, serta mencarikan solusi bijak menyelamatkan negara, begitupun anak-anak bangsa. Sebab merekalah yang kelak menjalankan kepemimpinan negeri ini. Inilah hal baik yang seharusnya menjadi prestasi, bukan selainnya.

Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Penulis: Lulu Nugroho

Baca Juga