Opini

Bukti Kita Mencintai Nabi SAW

Akuratnews.com - Meskipun masa pandemi belum berakhir, umat Islam tetap semangat dalam mengenang kelahiran Rasulullah Saw yang jatuh pada tanggal 12 Rabi'ul Awal, bertepatan dengan tanggal 29 Oktober 2020. Hal ini terbukti dengan banyaknya peserta yang hadir pada agenda Maulid Akbar Virtual yang mengusung tema "Cinta Nabi SAW: Tegakkan Syariah, Wujudkan Keadilan, Lenyapkan Kezaliman" melalui http://maxbuzz.co/maulidnabi.

Mengenai perasaan cinta terhadap Rasulullah SAW, Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (TQS. At Taubah: 24).

Maka sebagai seorang Muslim yang mengaku mencintai Rasulullah Saw, apa yang bisa kita buktikan? Allah ‘Swt. berfirman: “Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Ali ‘Imran: 31).

Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini berkata, “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaannya.”

Banyak di antara kaum Muslim yang berpikiran bahwa sudah dianggap mencintai Rasulullah Saw hanya dengan memperbanyak shalawat, mencontoh Rasulullah Saw dalam beribadah, berakhlak dan berkeluarga. Selebihnya dalam bermuamalah, berpolitik, bersosial dan bernegara, mereka tidak mau mengikuti.

Kita lihat fakta hari, umat Islam senantiasa dihadapkan pada berbagai problem; sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, keamanan dan sebagainya. Termasuk juga problem kekerasan terhadap Muslim minoritas. Berbagai solusi yang dipakai untuk menyelesaikan semua problem itu tidak pernah menengok pada apa yang dicontohkan Rasulullah Saw. Maka wajar jika problem itu tidak pernah berkesudahan.

Padahal, jika kita betul-betul mencintai Rasulullah Saw, semestinya kita meneladani Nabi Saw. yakni dengan menerapkan syariat yang beliau bawa secara keseluruhan. Allah SWT menegaskan bahwa sikap demikian  merupakan bukti kebenaran dan kesempurnaan iman. Allah SWT berfirman: “Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (TQS an-Nisa’ [4]: 65)

Gambaran mereka yang betul-betul mencintai Rasulullah Saw adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat Rasul yang mulia. Mereka senantiasa taat dan mengikuti apapun yang menjadi keputusan Rasul. Meski harus mengorbankan orang yang mereka cintai. Dalam perang Badar, banyak pasukan kaum kafir yang merupakan keluarga dari para sahabat Rasul. Namun mereka tidak gentar, mencurahkan segenap potensi yang dimiliki untuk membela agama Allah.

Ada seorang wanita Anshar; ayah, suami, saudara laki-lakinya gugur di medan Perang Uhud. Bayangkan! Bagaimana perasaan seorang wanita kehilangan ayah, tempat ia mengadu. Kehilangan suami, tulang punggung keluarga dan tempat berbagi. Dan saudara laki-laki yang melindungi. Ditambah, ketiganya pergi secara bersamaan. Alangkah sedih keadaannya.

Mendengar tiga orang kerabatnya gugur, sahabiyah ini bertanya, “Apa yang terjadi dengan Rasulullah SAW?" Orang-orang menjawab, “Beliau dalam keadaan baik.” Wanita Anshar itu memuji Allah dan mengatakan, “Izinkan aku melihat beliau.” Saat melihatnya ia berucap, “Semua musibah (selain yang menimpamu) adalah ringan, wahai Rasullah.” (Sirah Ibnu Hisyam, Juz: 3 Hal: 43).

Musibah terbesar hari ini adalah tidak diterapkannya syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Bagaimana kita membayangkan betapa sedihnya Rasulullah jika mengetahui sebagian umatnya ada yang mengagungkan nasionalisme, sekulerisme, demokrasi, dan berbagai paham sesat lainnya.

Apa yang akan kita sampaikan mengenai posisi kita di tengah-tengah kondisi di mana syariat Islam dikerdilkan hanya sebatas di mesjid atau di majelis-majelis ilmu? Sedangkan di dalam mengurusi umat, tidak ada ruang bagi syariat. Apakah kita termasuk yang diam hanya menyaksikan? Lalu, di mana letak bukti cinta kita kepada Rasul?

Kalau benar kita mencintai Rasul, seharusnya kita tidak akan pernah tenang menyaksikan syariatnya terus diabaikan. Kita akan berharap kaum Muslim bersatu dalam satu kepemimpinan. Tidak ada batas-batas negara yang menyebabkan muslim negara satu merasa asing dengan muslim dari negara lain. Padahal Rasulullah menggambarkan bahwa antar Msatu dan Muslim lainnya adalah bersaudara.

Kita pun merindukan suasana dimana syariat Islam bisa diterapkan secara totalitas. Menghilangkan segala penderitaan dan kedzaliman. Sehingga kebahagiaan, kedamaian, keadilan, kesejahteraan bisa kita rasakan.

Maka, wujud dari kecintaan terhadap Rasulullah Saw bisa dibuktikan dengan mempelajari kehidupan Rasul, berupaya meneladani Rasulullah Saw dalam berbagai aspek kehidupan. Termasuk mendakwahkan Islam seperti yang dilakukan Nabi SAW, mengajak manusia untuk menerapkan risalah yang dibawanya.

Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”(QS:An-Nisaa: 69).
Wallahu a'lam bishshawab.

Baca Juga