Corona dan Nasib Masa Depan Manusia

Jimmy Carvallo
Jimmy Carvallo

Opini, Akuratnews.com - Memasuki tahun 2020, perhatian dunia tertuju pada sebuah kota di Tiongkok, Wuhan, awal teredintifikasinya sebuah virus yang kini diperbaincangkan dan menjadi pusat perhatian. Wabah virus Corona yang dikenal dengan COVID-19 telah menjadi pandemi global dan dengan begitu cepatnya menyebar ke ratusan negaradan kini telah menewaskan lebih dari 9,800 orang dan menginfeksi lebih dari 242 ribu orang dengan status positif diseluruh dunia.

Virus ini menyebabkan penyakit pada saluran pernapasan dengan gejala awal seperti batuk-batuk, sakit pada tenggorokan, sakit kepala dan demam selama beberapa hari. Walaupun cukup banyak yang bisa selamat dari cengkeramannya yang mematikan, ia tetap menjadi hantu yang menakutkan.

Sejumlah negara besar seperti Italia, Spanyol, Jerman, Amerika Serikat, Perancis termasuk Indonesia terus berperang melawan wabah virus ini karena telah merenggut nyawa yang tidak sedikit. Dilansir Katadata.co.id Sabtu (21/3/2020) di Indonesia terdapat 6 kasus kematian akibat virus corona sehingga menambah daftar panjang korban meninggal menjadi 38 orang, korban paling banyak berasal dari Jakarta (5 orang).

Petaka Global

Wabah virus corona telah mengubah planet bumi menjadi sebuah tempat hunian yang mencekam di awal tahun 2020. Wabah yang tak pernah diduga sebelumnya itu, telah merenggut ribuan nyawa manusia di dunia dalam lebih dari dua bulan terakhir dan membawa krisis baru ke tengah peradaban manusia.

Aktivitas dan dinamika keseharian manusia diberbagai sudut dunia nyaris lumpuh karena sebagian orang lebih memilih mengamankan dan mengisolasi diri dari interaksi di dunia kerja, sosial bahkan dari aktivitas religius di tempat-tempat ibadah. Virus corona menjadi semacam monster yang mengganggu dan memporak-porandakan tatanan hidup bersama umat manusia yang selama ini dipelihara dan dijaga dengan baik.

Orang beramai-ramai menghindari ruang publik, satu dengan lainnya mulai hemat berkata-kata, berkomunikasi dengan suara yang tersembunyi dibelakang masker, mulai memborong berbagai barang kebutuhan hidup sehari-hari akibat isu dan situasi yang dinamis diberbagai wilayah. Kepanikan melanda sebagian orang ketika virus corona ditetapkan menjadi pandemi global oleh WHO, organisasi Kesehatan Dunia.

Virus corona sempat memantik fobia panik, apalagi ketika sejumlah pemerintahan di negara-negara tertentu mengumumkan penutupan toko-toko, kecuali apotik seperti di Italia, meniadakan kegiatan yang menghadiekan atau mengumpulkan massa, bahkan tidak melakukan ritus sembahyang yang melibatkan umat di tempat-tempat ibadah.

Pelarangan aktivitas atau kegiatan di ruang publik telah menampakan pemandangan baru, suasana sepi dan hening sangat terasa di banyak tempat. Dalam letupan keheningan dan cemas itu, saya ingin membagikan permenungan kecil, sisi lain dari pelajaran penting yang bisa menjadi hikmah bersama dalam mendudukan kembali serpihan-serpihan pikiran yang mungkin tidak pernah terpikir oleh kebanyakan orang.

Solidaritas

Tragedi wabah Corona telah menjadi keprihatinan global serentak menyatukan perasaan solidaritas umat manusia diberbagai belahan dunia. Dengan jumlah korban yang banyak, baik yang positif terinfeksi virus ini maupun korban meninggal, telah menyatukan manusia di seantero dunia dalam rasa keprihatinan dan duka berhadapan dengan berbagai berita yang dirilis setiap saat oleh media.

Dunia yang diidamkan sebagai tempat hunian yang aman, damai dan humanis seakan dirobek oleh epidemi corona yang menyebar secara masif keberbagai wilayah, melintasi benua dan samudera. Realitas ini seakan menempatkan manusia sebagai seorang tahanan di tengah dunia yang semakin muram dan menakutkan, tersandera fobia dan memunculkan semacam keterasingan satu dengan yang lain karena dihantui perasaan cemas akan kemungkinan ditulari sesama yang berinteraksi langsung.

Di balik kecemasan tentang masa depan yang tak menentu ini, tersirat suatu kerinduan yang memunculkan harapan baru, bahwa dibalik tragedi COVID-19 ada secuil rasa senasib sebagai makhluk ciptaan Tuhan, perasaan solidaritas yang lahir dari inti terdalam hakikat manusia yakni insan yang berpikir dan berperasaan dengan hati.

Berbagai bentuk gerakan solidaritas spontan, seperti penggalangan bantuan masker, obat-obatan, finansial, bahkan aksi doa bersama di setiap agama untuk memohon agar Tuhan turun tangan mengatasi dan melenyapkan COVID-19 merupakan wujud keprihatinan dan solidaritas yang dibangun di atas berbagai sekat perbedaan.

Ini seakan pula menutup wajah beringas segelintir orang yang mengail di air keruh ketika memperdagangkan barang kebutuhan penting di tengah kepanikan wabah Corona, seperti harga jual masker yang melambung, hand-sanitizer bahkan dengan sengaja memborong, menimbun (menyimpan) barang-barang dengan alasan akan menjadi barang langka namun dengan sengaja ikut membuat lebih banyak orang terkapar tak berdaya digilas Corona.

Bagaimanapun, COVID-19 merupakan ujian alam terhadap manusia, suatu lembar kerja kemanusiaan yang menuntut perhatian, konsentrasi, keseriusan untuk menghasilkan nilai yang memuaskan bagi Sang Pencipta, lulus selaras dengan kehendak awal manusia diciptakan, yakni saling menolong sebagai rekan ciptaan yang istimewa, dianugerahi budi, perasaan, hati yang bersimpati pada sesamanya.

Kita hidup dan berada di era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan pesat di berbagai bidang kehidupan terutama ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam situasi di mana umat manusia menyanjung dan menyembah teknologi itu, dampak lain yang muncul tidak bisa dihindari lagi : manusia semakin jauh dari sesamanya, Tuhan tidak lagi mendapat porsi penting di dalam dinamika keseharian yang menopang arah masa depan dunia, undang-undang Tuhan sudah sejak lama sengaja dicabut dan dibuang keluar dari tatanan kehidupan di planet ini, sehingga yang tertinggal adalah manusia menjadi tuhan atas dirinya sendiri.

Dalam perjalanan mencari dan menemukan tujuan hidupnya, manusia selalu berlomba untuk meraih yang terbaik dan mendapat pengakuan sosial yang bisa mengangkat martabat dirinya, seperti jabatan, gelar akademis, harta kekayaan, kemewahan hidup bahkan mengolekasi apa saja yang bisa dibeli dengan uang termasuk membeli dan memperdagangkan manusia sesamanya (human traficking).

Pada titik ini, nafsu keserakahan telah menabrak sendi-sendi dasar kemanusiaan namun semua raihan itu terkadang mendatangkan malapetaka dan kehancuran bagi orang lainnya. Di negeri ini, misalnya, sejarah telah mencatat, bagaimana kekuasaan yang tidak bisa dijalankan dengan bijak dan demi meraih dan melanggengkannya harus mengorbankan darah banyak orang. Rasa-rasanya kekuasaan baru mendapat kehormatan satrianya kalau diraih dengan menghalalkan berbagai cara.

Lalu, bagaimana mungkin ketika sebagian besar orang mengamini bahwa politik itu memang kotor, penuh trik dan intrik, saling menjegal itu lumrah, diraih dengan membeli suarapun tidak masalah, dicapai dengan mengerakan kekerasan dengan berbagai bentuknya pun halal, saling hujat dan menggiring agama sebagai tameng memukul balik lawan juga oke-oke saja. Entah disadari atau tidak, kita sedang berada di ambang kehancuran hakikat kemanusiaan (humanity). Dasar paling inti yang membedakannya dari ciptaan lainnya, sebagai makhluk yang berakal budi. Bukan hanya berakal tapi juga berbudi.

Tragedi wabah virus Corona adalah momentum kita merefleksikan kembali siapa kita sebenarnya dihadapan tantangan zaman yang terus berubah dengan begitu cepat. Atau bisa dikata, cermin tempat kita mengaca diri sambil meluruskan kembali ikatan silaturahmi anatara satu dengan yang lain.

Filsuf Tiongkok yang hidup sekitar 2500 tahun lalu, Konfusius pernah mengajak semua umat manusia untuk jangan pernah berhenti menjadikan diri sebagai junzi, pribadi yang terus berusaha mengembangkan sifat-sifat baik dan berperilaku dengan kebaikan dan kebijaksanaan serta berwelas-asih bagi orang lain.*

Oleh : Jimmy Carvallo
Penulis Lepas, Tinggal di Ruteng- Flores

Baca Juga