Pasar Uang

Cuitan Trump Redakan Kekhawatiran Pasar

Jakarta, Akuratnews.com - Dolar AS menguat dalam perdagangan hari Selasa (14/05) setelah kabar yang melegakan pasar atas kelanjutan perundingan perang dagang AS - China. Presiden AS, Donald Trump kembali mencuitkan pernyataan terkait perundingan ini. Kata-kata meyakinkan Trump memberi harapan kepada para pelaku pasar bahwa kesepakatan perdagangan antara Washington dan Beijing masih mungkin terjadi.

Kedua negara saat ini memiliki tarif masuk hingga 25% untuk produk masing-masing, dengan AS menargetkan barang dagangan China bernilai lebih dari $500 miliar dan China pun mengenakan tarif untuk barang-barang Amerika senilai $60 miliar.

Para investor juga fokus pada apakah Trump akan mengenakan tarif pada mobil impor dan suku cadang mobil saat pembicaraan berlanjut dengan Uni Eropa dan Jepang.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang menjadi tolok ukur kinerja greenback terhadap enam mata uang, ditutup naik 0,185% pada 97,33 karena para investor mendapatkan kembali selera beli untuk mata uang AS. Sedangkan di Wall Street, indeks Dow Jones, alternatif lain untuk emas, menikmati rebound tiga digit, ditutup naik lebih dari 207 poin. Indeks tersebut telah naik sebanyak 364 poin.

Euro melemah terhadap dolar setelah wakil perdana menteri Italia mengatakan negara itu siap untuk melanggar aturan anggaran Uni Eropa jika perlu untuk memacu lapangan kerja. “Jika kita perlu menembus beberapa batasan, seperti rasio defisit 3% terhadap PDB atau rasio hutang sebesar 130-140 % terhadap PDB, kami siap untuk melanjutkan. Sampai kita tiba di tingkat pengangguran sebesar 5%, kita akan menghabiskan semua yang kita harus lakukan dan meskipun pihak di Brussels mengeluh, itu tidak akan menjadi perhatian kita, “ kata Matteo Salvini.

Pelemahan Euro juga disebabkan dari penguatan Dolar karena pejabat AS dan China mengatakan kedua negara akan terus bernegosiasi tentang perdagangan. Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa membela perang dagangnya dengan Cina ketika ketegangan meningkat dan pasar memperpanjang kerugian mereka, menjanjikan kesepakatan dengan Presiden Cina Xi Jinping segera, bahkan ketika kekhawatiran meningkat tentang pertempuran yang berlarut-larut.

Poundsterling turun ke posisi terlemah dalam dua minggu karena data ketenagakerjaan Inggris menunjukkan pertumbuhan upah pada kuartal yang berakhir Maret lebih rendah dari yang diharapkan, menandakan kemungkinan dimulainya periode yang bergejolak untuk ekonomi secara lebih luas. U

pah di Inggris telah tumbuh pada tingkat yang kuat selama sekitar setahun terakhir tetapi melambat menjadi 3.2 % pada kuartal pertama 2019, lebih rendah dari prediksi 3.4 % dan turun dari kuartal sebelumnya sebesar 3.5 %. Data juga menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melambat menjadi 99.000, jauh di bawah perkiraan rata-rata 135.000.

Pertumbuhan upah Inggris dekat dengan posisi tertinggi pasca-krisis, tetapi beberapa tanda peringatan dini secara tentatif telah menunjukkan bahwa lapangan kerja di Inggris memasuki periode yang bergejolak. Suku bunga Inggris diyakini masih belum akan dinaikkan meskipun komentar terkini dari Gubernur Mark Carney menyarankan langkah tersebut dibulan November tidak boleh dikesampingkan. Bank of England telah mengatakan pada waktu lalu bahwa kenaikan suku bunga akan bergantung pada pertumbuhan upah yang kuat agar mendorong inflasi.

Aussie yang sering dipandang sebagai proksi untuk melihat pertumbuhan ekonomi Cina atas hubungan dagang Australia – Cina. Sentimen perang tarif AS-China telah menekan mata uang komoditas tersebut merosot tajam, namun pulih setelah Amerika dan China dikabarkan akan terus melanjutkan negoisasi perdagangan. Sentimen ini juga membuat Yen melemah sebagai mata uang asset safe-haven. (HQM)

Penulis: Lukman Haqeem

Baca Juga