Dua Kali Telan Pil Pahit di Laga Perdana, Tiga Hal Ini Perlu Dilakukan Lampard

Istanbul, Akuratnews.com - Di saat Frank Lampard masih berusaha mencari kemenangan pertamanya sebagai pelatih Chelsea, lagi-lagi ia harus merasakan kekalahan pahit pada laga penting.

Ya..Kamis (15/8) dini hari WIB, tim berjuluk The Blues ini harus menelan kekalahan pahit dari Liverpool di ajang Piala Super Eropa 2019. Skor 2-2 menutup 120 menit pertandingan, Chelsea kemudian takluk 4-5 di babak adu penalti.

Kekalahan ini merupakan pukulan berat untuk Lampard yang baru menjalani musim pertamanya. Terlebih setelah The Blues dihajar Manchester United 0-4 pada laga pembuka Premier League 2019/2020 di akhir pekan lalu.

Lampard memang pernah punya karir yang gemilang sebagai pemain. Ada banyak gelar yang pernah dia raih. Tetapi, jika bicara Piala Super Eropa, dia punya rekor buruk.

Dan ini tampaknya masih terbawa saat ia sudah melatih. Lampard selalu kesulitan di Piala Super Eropa.

Bagi manajer berusia 41 tahun tersebut, ini adalah kegagalan ketiganya bersama Chelsea di Piala Super Eropa.

Kegagalan pertama terjadi pada tahun 2012 silam. Ketika itu, Frank Lampard masih bermain. Chelsea kalah dengan skor 1-4 atas Atletico Madrid.

Selanjutnya, Frank Lampard kembali gagal meraih gelar pada 2013. Ceritanya hampir sama dengan tahun 2019 ini. Chelsea kalah dari Bayern Munchen lewat babak adu penalti dengan skor 4-5. Laga juga berakhir dengan skor 2-2 pasca tambahan waktu.

Kini, Chelsea harus segera mengalihkan perhatian mereka pada pertandingan berikutnya. Dari dua kekalahan pertama ini, Lampard seharusnya bisa mengamati kekurangan dan kelebihan timnya, pelajaran berharga untuk laga berikutnya.

Dilansir dari Metro, ada tiga hal yang bisa dipelajari Lampard usai kekalahan Chelsea dari Liverpool di Piala Super Eropa:

1. Giroud Striker Utama

Pekan lalu, Jose Mourinho mengkritik Lampard yang menurunkan Tammy Abraham sebagai sterting line-up pada laga melawan MU. Dia menyarankan Lampard lebih mengandalkan pemain-pemain berpengalaman.

Komentar Mourinho terbukti benar. Pada laga melawan Liverpool, Giroud merupakan salah satu pemain yang tampil paling gemilang. Meski kalah, perannya sangat penting pada permainan MU. Giroud memang lebih kesulitan di babak kedua, tapi dia tampil impresif pada 45 menit pertama.

2. Kante Bisa Menyerang

Kritik keras pada Maurizio Sarri musim lalu sebagian besar mengarah pada keputusannya memainkan N'Golo Kante dalam peran yang lebih ofensif. Kini, Lampard ternyata memilih mempertahankan perubahan Sarri.

Lampard memercayai Jorginho untuk bermain dalam peran holding midifielder dan meminta Kante bermain di sisi kanan. Perubahan ini ternyata merepotkan Liverpool.

Masalahnya, satu kekurangan besar pada gagasan ini adalah kemampuan ofensif Kante tidak cukup bagus untuk membuat perbedaan pada wilayah sepertiga akhir. Kante bisa menembus kotak penalti, tapi tidak tahu harus mengumpan atau menembak.

3. Potensi Pulisic

Christian Pulisic terbilang sebagai pemain terbaik Chelsea pada pertandingan ini. Dia tampil tak gentar menghadapi Liverpool yang bermain agresif.

Terbukti, Pulisic menorehkan satu assist penting untuk gol Olivier Giroud pada pertandingan ini. Assist ini sangat bagus, Pulisic membelah pertahanan Liverpool terlebih dahulu dan melihat laju Giroud di sisi kirinya.

Dia juga sempat mencetak gol individual luar biasa yang menunjukkan kemampuan pribadinya. Sayangnya gol tersebut dianulir karena Pulisic berada dalam posisi offside.

Dari tiga analisis di atas, tak salah jika Lampard perlu mempertimbangkannya jika tak ingin Chelsea pulang lagi dengan tertunduk lesu usai laga kedepannya.

Penulis: Rianz
Editor: Ahmad Ahyar

Baca Juga