Lima Menteri Masuk Radar Capres

Elektabilitas Airlangga Hartarto Paling Rendah

Survei INES Tempatkan Airlangga Hartarto sebagai Suksesor Jokowi
Survei INES Tempatkan Airlangga Hartarto sebagai Suksesor Jokowi

AKURATNEWS - Lima lembaga survei yang menyajikan data terkait elektabilitas bakal calon presiden 2024 menunjukkan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto konsisten di angka nol koma sekian persen.

Dirangkum dari Survei SMRC, Survei Indikator Politik Indonesia, Survei Litbang Kompas, Survei DTS Indonesia dan Lembaga Survei Nasional, calon presiden terpopuler masih berkisar di nama Prabowo Subianto, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo.

Airlangga Hartarto secara konsisten bertengger di angka nol koma persen, bahkan kerap dikalahkan nama-nama yang bukan Ketua Umum partai.

Hasil survei dinamika elektabilitas capres 2024 oleh SMRC menunjukkan nama Airlangga bahkan tidak ada setelah nama yang elektabilitasnya paling buncit, yakni Tri Rismaharini (1,6 persen).

Sementara, hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan elektabilitas Airlangga di 0,9 persen, kalah dengan beberapa anggota kabinet Jokowi lainnya yakni Sandiaga Uno, Tri Rismaharini, Erick Thohir dan Sri Mulyani Indrawati.

Hasil survei Litbang Kompas juga tidak menyebut nama Menko Perekonomian RI tersebut. Terbontot di survei kompas adalah Puan Maharani di 0,6 persen, sedang nama lainnya 4,1 persen dan tidak ada/tidak tahu/rahasia di 11,8 persen.

Survei DTS Indonesia menunjukkan posisi Ketua Umum Golkar di 0,3 persen kalah dengan Khofifah Indraparawansah (0,5 persen) dan Puan Maharani (0,6 persen), bahkan Gatot Nurmantyo (1,2 persen).

Sebelumnya, Generasi Muda Partai Golkar (GMPG) pernah menyoroti kinerja mantan Menteri Perindustrian tersebut, terutama terkait banyaknya anggaran yang telah dihabiskan untuk beriklan.

Inisiator GMPG, Sirajuddin Abdul Wahab menyindir pemasangan billboard dan videotron Airlangga Hartarto.

GMPG menilai, tingkat keterpilihan Airlangga tetap kecil meski telah mengeluarkan dana miliaran untuk beriklan meningkatkan elektabilitas.

"Sekalipun sempat viral dan menjadi bahan ejekan netizen di media sosial, pemasangan billboard dan videotron tersebut tetap berlanjut," kata Sirajuddin Abdul Wahab dalam keterangannya di awal tahun ini.

Menurut Sirajuddin, Airlangga dinilai telah gagal sebagai Ketua Umum Partai Golkar, terutama dalam membesarkan dan menjalankan visi serta misi partai.

"Hasil survei Indikator Politik Indonesia, Airlangga hanya mampu mencapai 0,2 persen," ungkapnya seraya menambahkan dirinya mengingatkan buruknya tingkat keterpilihan Airlangga justru berdampak negatif Partai Golkar.

"Padahal, secara teori, jika sosok ketua umum, kandidasi presiden, visi-misi yang bagus, program yang nyata, tata kelola partai yang benar partai, maka pasti akan berpengaruh positif pada peningkatan elektabilitas dan citra partai," katanya lagi.

"Bahkan, sejak periode perintah pemasangan billboard/videotron oleh DPP kepada pengurus DPD di daerah sejak Juli 2021 hingga saat ini, citra partai yang semakin menurun bahkan justru semakin menegaskan sebagai partai korup, oligarkis, dan otoriter," beber Sirajuddin.

Beberapa catatan Sirajuddin terhadap Golkar adalah beberapa kader yang juga kepala daerah terkena operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak awal 2022. Mereka adalah Bupati Langkat, Terbit Rencana Perangin dan Walikota Bekasi, Rahmat Effendi.

Sebelumnya di 2021 pejabat yang juga terkena OTT adalah mantan Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin; Wakil Ketua DPR, Azis Syamsuddin; Bupati Musi Banyuasin, Dodi Reza Alex Noerdin; dan Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), Andi Putra.

Terpisah, pengamat politik dari Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIP-AN) Efriza yang mengatakan, banyak pihak yang menyoroti persoalan pribadi yang mendera Menko Perekonomian dan Ketum Golkar.

Menurutnya jika tidak ada klarifikasi terkait pengakuan seorang wanita bernama Rifa Handayani, yang mengakui memiliki hubungan terlarang dengan menteri Jokowi tersebut, maka akan berpengaruh terhadap citra partai berlambang pohon beringin tersebut.

“Pasti berpengaruh, publik akan punya penilaian sendiri. Kalau semakin menurun elektabilitas Golkar dan semakin berat bertarung di 2024. Petinggi dan seluruh elemen Golkar mau tidak mau harus pikir ulang,” kata Efriza beberapa bulan lalu.

Sedangkan Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi berpendapat, kasus dugaan perselingkuhan yang menerpa Ketua Umum (Ketum) Partai Golongan Karya (Golkar), Airlangga Hartarto harus segera diselesaikan sendiri oleh bersangkutan.

Dirinya menyebut jika tidak segera diselesaikan, maka akan menjadi 'bola panas' di internal Golkar.

“Ini menyangkut masalah moral, apalagi disertai laporan. Ini bisa menjadi ancaman posisi dia (Airlangga Hartarto) jadi ketua umum partai. Dan sudah menjadi kehebohan di internal partai,” kata Arbi.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga