Habib Rizieq Jawab Politik Identitas dan Peringatkan Rekayasa Tabulasi KPU

Habib Rizieq

Jakarta, Akuratnews.com - Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menegaskan bahwa para habaib dan ulama yang istiqarah tidak akan pernah memainkan politik identitas SARA yang narsis dan fasis serta bertentangan dengan syariat dan konstitusi.

Akan tetapi, para habaib dan ulama yang istiqarah menurutnya akan selalu memainkan politik identitas yang terhormat dan bermartabat, yaitu politik identitas umat kebangsaan berdasarkan ketuhanan yang maha esa.

"Ingat, Indonesia merdeka dengan politik identitas. Ingat, NKRI juga lahir melalui politik identitas. Ingat, Pancasila pun disusun dengan politik identitas," sebutnya melalui pesan suara pada pelaksanaan Ijtima Ulama II di Grand Cempaka Hotel, Jakarta Pusat, Minggu (16/09/2018).

Habib Rizieq menuturkan Presiden Soeharto bersama TNI dan ulama serta umat Islam yang dulu membasmi PKI juga merupakan bentuk politik identitas. "Bahkan saat Pilkada DKI di Jakarta tahun 2017 kemarin ulama dan umat Islam juga melakukan politik identitas untuk menjunjung tinggi ayat suci di atas ayat konstitusi," ucap dia.

Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama ini menyatakan politik identitas ulama dan umat Islam bukan politik SARA atau fasis melainkan politik umat kebangsaan untuk mencari ridha Allah SWT.

"Jadi, Ijtima Ulama akan terus menghidupkan dan menggelorakan politik identitas umat kebangsaan atas dasar ketuhanan yang maha esa demi menjaga keutuhan NKRI dan Pancasila menuju Indonesia berkah," tukas Habib Rizieq.

Untuk itu, ia meminta agar mewaspadai kemungkinan rekayasa sistem dan tabulasi di Komisi Pemilihan Umum (KPU) dari pusat hingga daerah saat penghitungan suara. "Karenanya, siapkan sukarelawan saksi yang militan di setiap TPS di seluruh Indonesia," kata Habib Rizieq.

Lebih lanjut, pihaknya mendorong audit forensik untuk semua sistem komputer KPU agar tidak terjadi rekayasa penghitungan suara. Serta menuntut hitungan manual dengan formulir C1 untuk penentuan akhir perhitungan suara Pemilu.

"Semua ini tidak lain dan tidak bukan untuk menutup semua pintu kecurangan teknologi komputer dalam penghitungan suara Pemilu. Ayo ciptakan Pemilu yang jujur dan adil," pungkasnya. (Ysf)

Penulis:

Baca Juga