Kebakaran Kembali Terjadi di Kawasan TN Komodo, Apa Kabar Satwa Premium?

Foto: Ilustrasi || dok. AkuratNews
Foto: Ilustrasi || dok. AkuratNews

Sepanjang tahun 2021 telah terjadi 2 kali pariwisata kebakaran di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Kebakaran pertama terjadi pada tanggal 7 hingga 8 Agustus 2021.

AKURATNEWS - Kebakaran kembali terjadi di Kawasan Taman Nasional (TN) Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa kebakaran tepatnya di pulau Rinca TN Komodo itu dibenarkan oleh Kepala Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), Lukita Awang.

"Rinca bagian ujung utara/barat (yang terbakar)," jelas Lukita membenarkan peristiwa itu, sebagai dilansir media Antara, Selasa, 2 November 2021.

Lukita menjelaskan, petugas internal BTNK memperoleh informasi terkait peristiwa itu pada pukul 15.00 WITA. Namun, Ia belum memberikan informasi mengenai penyebab kebakaran dan apa yang terbakar di lokasi tersebut.

Guna mengantisipasi meluasnya kobaran api, sebanyak 43 personel diturunkan untuk ke lokasi kebakaran. Mereka terdiri dari 32 orang petugas ranger dan 11 orang warga Rinca, Kerora.

Untuk diketahui, sepanjang tahun 2021 telah terjadi 2 kali pariwisata kebakaran di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Data yang dihimpun akuratnews.com, kebakaran pertama terjadi pada tanggal 7 hingga 8 Agustus 2021.

Kebakaran pertama yang berlangsung dua hari itu merusak kurang lebih 10 hektare lahan sabana di Pulau Komodo TNK. Lahan sabana terbakar itu terletak di Laju Pemali, tepatnya di bagian barat Pulau Komodo. Diketahui, lokasi tersebut merupakan zona inti kawasan TNK.

Pulau Rinca sendiri, sebelumnya pernah ramai diperbincangkan karena pemerintah berencana akan menjadikan kawasan itu sebagai lokasi pembangunan proyek wisata "Jurassic Park" yang merupakan bagian dari rencana pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas Labuan Bajo, NTT.

Pegiat Lingkungan Dan Pelaku Pariwisata Flores mengkritisi model pengembangan pariwisata super premium di kawasan TN Komodo. Pasalnya, model pembangunan tersebut jelas merusak ekosistem komodo. Pembangunan Mega proyek Jurassic Park terbesar menurut para penggiat lingkungan akan merusak tempat perlindungan alami bagi satwa Komodo, dan ruang hidup warga setempat.

Secara spesifik, Pegiat Lingkungan dan Pelaku Pariwisata Flores menentang keras pemberian konsesi bisnis wisata kepada sejumlah perusahaan seperti PT Sagara Komodo Lestari seluas 22,1 Ha di Pulau Rinca, serta PT Komodo Wildlife Ecotourism seluas 274,13 Ha di Pulau Padar. "Dan 151,94 di Pulau Komodo dan Pt Synergindo Niagatama di 17 Ha di Pulau Tatawa," papar Kapten Aditia dari Pegiat Lingkungan dan Pelaku Pariwisata Flores, dilansir Tempo.

Meskipun mendapatkan kecamatan serta protes dari Pegiat Lingkungan Dan Pelaku Pariwisata Flores, dengan menyurati pihak
Sekretariat Kepresidenan pada 14 Oktober 2021 lalu, namun rupanya surat tersebut tidak ditanggapi.

Dengan konsep pembangunan kawasan yang mengedepankan perlindungan dan penggunaan warisan geologi berkelanjutan, pemerintah tetap ngotot.

Pembangunan pun dilanjutkan dengan konsep geopark. Tujuannya yaitu guna menarik minat para wisatawan. Selain Jurassic Park di Pulau Rinca, beberapa fasilitas akan dibangun di lokasi yang bakal dijadikan pusat wisata premium tersebut.***

Penulis: Yohannes Marto

Baca Juga