Lola Amaria Yakin ‘Kartini’ Pun Bisa Sukses Pimpin Pesantren

AKURATNEWS - Bicara soal perempuan Indonesia, sineas Lola Amaria tak perlu lagi diragukan kapabilitasnya. Sejumlah karya-karya film, baik yang dilakoninya sebagai pemain dan sebagai sutradara serta produser banyak berbicara tentang nasib dan kondisi riil perempuan saat ini.

Sebut saja judul filmnya seperti 'Beth', 'Suster Zaenab', 'Betina', 'Minggu Pagi di Victoria Park', 'Mayang', 'Labuan Hati', '6,9 Detik' hingga karya terbarunya bertajuk 'Pesantren' yang memiliki muatan kisah dan cerita soal perempuan Indonesia.

Bahkan, tak hanya di Indonesia, Lola yang kini sudah menjadi seorang produser film ini pernah mendapat kehormatan menjadi pembicara dalam acara Pemutaran Film dan Rangkaian Diskusi Dalam Semangat Kartini di Hannover, Jerman pada 2018 lalu.

Lola menjadi salah satu pembicara yang diundang pihak penyelenggara Bildung Und Gesundheit fur Indonesien e.V, sebuah lembaga nonprovit yang bergerak di bidang pendidikan masyarakat dan kesehatan untuk Indonesia.

Dalam diskusi ini, Lola membagi pengalaman sebagai perempuan Indonesia yang berdikari. Ia menjelaskan, lewat film 'Kisah 3 Titik' dan 'Labuan Hati', deskripsi tentang perempuan Indonesia berdasarkan versinya menjadi sebuah gambaran jelas bagaimana sekelumit kisah tentang apa yang terjadi pada kisah perempuan.

"Di film saya, 'Kisah 3 Titik' diceritakan lika liku tenaga kerja wanita di Indonesia. Di situ digambarkan seutuhnya tentang hak-hak pekerja wanita, terutama tentang kesejahteraan, kesehatan dan juga hal-hal lainnya. Sedangkan di Labuan Hati, digambarkan kehidupan wanita Indonesia yang sangat kompleks dari berbagai sudut pandang. Bagaimana perempuan Indonesia itu mandiri dan berusaha mengatasi semua persoalannya seorang diri," beber Lola saat itu.

Dan yang terbaru, film 'Pesantren', dimana ia terlibat sebagai distributor film ini, Lola mengaku tertarik menjadi bagian dari film ini lantaran selain film ini memperlihatkan kondisi riil pesantren yang jauh dari stigma radikalisme dan terorisme, ada sebuah hal menarik yakni spirit keterlibatan seorang 'Kartini' di era masa kini yang berhasil dalam memimpin sebuah pesantren.

"Syuting film ini berlokasi di sebuah pesantren tradisional di Cirebon yang dipimpin seorang wanita. Dan beliau sukses memimpin pesantren yang satrinya hampir 1.600 santri. Di film ini ditunjukkan bahwa pemimpin perempuan bisa dan berhasil memimpin sebuah pesantren," ujar Lola di sela-sela roadshow film 'Pesantren' di Ponpes Al Furqon, Singaparna, Tasikmalaya, baru-baru ini.

Dijelaskannya, biasanya, pesantren menganut sistem patriaki dimana laki-laki dominan memimpin.Tapi, hal itu kini bisa dipatahkan, wanita pun mampu dan berhasil.

"Ini juga menjadi sebuah jalan, terbuka kesempatan bagi santriwati-santriwati memimpin pesantren," ujar Lola lagi.

Dalam dunia film, Lola juga aktif menyampaikan pesan soal kontrak kerja yang harusnya mengatur soal kekerasan seksual pada perempuan yang terlibat dalam produksi film.

Lola ingin bagaimana seharusnya kontrak kerja melindungi perempuan yang berkarier di dunia perfilm-an dari kekerasan seksual. Diakuinya, tak sedikit selebriti atau kru perempuan yang pernah mengalami hal tersebut.

"Untuk pencegahan awal kekerasan seksual, kita haris memasukan aspek keamanan ke dalam kontrak kerja", ujar Lola

Hal pertama yang perlu dilakukan untuk menerapkannya bisa dimulai dari diri sendiri, lalu memulai dari kelompok kecil.

"Jika ini sudah berjalan, teman-teman di dunia seni juga akan memberlakukan hal yang sama," ujarnya.

Lola juga menyampaikan ada hal yang perlu diperhatikan dalam kontrak kerja untuk memastikan keamanan perempuan.

"Dalam kontrak kerja perlu dicantumkan hak-hak yang akan didapatkan perempuan jika terjadi kekerasan seksual baik itu dalam bentuk bullying atau hal yang tidak mengenakkan lainnya," jelas Lola yang mengaku tak segan memberikan sanksi pada pekerjanya yang melakukan tindak kekerasan seksual di tempat kerja.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga