Mamit Setiawan : Jangan kotak-Kotakan Pertamina

Gedung Pertamina

Jakarta, Akuratnews.com - Gonjang ganjing pasca pencopotan Dirut PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto dan Wadirut Pertamina Ahmad Bambang semakin ramai saja dibicarakan di kalangan pengamat Migas.

Direktur Energy Wacth, Mamit Setiawan, mengatakan,  spekulasi mengenai siapa yang akan menduduki posisi Dirut Pertamina semakin liar dan tidak terkendali. Spekulasi mengenai alasan pencopotan Dwi Sucipto dan Ahmad Bambang  terus bergulir dikalangan para pengamat migas. Isu “matahari kembar” di Pertamina mencuat dan di jadikan alasan oleh Komut Pertamina terkait dengan rekomendasi pencopotan kepada Menteri BUMN.

Mamit menjelaskan, terlepas dari benar atau tidakanya alasan pencopotan tersebut memang sudah seharusanya pemerintah terbuka dalam memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait hal tersebut. Agar tidak menjadi prasangka kurang baik kepada pemerintah baik itu dikalangan internal pegawai Pertamina maupun khalayak umum.

Pertamina adalah "integrated company" dengan value chain dari upstream - downstream, sehingga tidak selayaknya dibenturkan dengan mindset yang terkotak-kotak (silo-silo). Pertamina,merupakan satu kesatuan entitas baik itu sektor hulu maupun sektor hilir yang tidak bisa dipisahkan.

Dia menilai dua sektor tersebut saling mensupport satu sama lain terhadap pendapatan Pertamina sebagai Perseroan yang bertugas mencari keuntungan, tapi disisi lain bertugas sebagai perusahaan yang siap rugi terkait penugasan yang diberikan dalam mendistribusikan  BBM dan LPG ke seluruh wilayah Indonesia, apalagi terkait dengan pemeberlakuan BBM satu harga diseluruh wilayah Indonesia.

" Sektor hulu,merupakan harapan bangsa Indonesia dalam menemukan cadangan migas baru serta target tercapainya lifting baik itu minyak maupun gas yang di targetkan dalam APBN," kata Mamit kepada Akuratnews.com, Minggu ( 26/2/17).

Kata dia,ditengah harga minyak dunia yang masih stagnan dikisaran 52-57$ per barrel, Pertamina Hulu harus bekerja keras agar target lifting bisa di tercapai dan disisi lain harus menemukan cadangan migas yang baru sebagai sumber energy masa depan Indonesia.

"Apalagi, saat ini tidak ada lagi  penambahan cadangan migas yang cukup besar untuk menggantikan cadangan migas yang sudah di produksikan. Selain itu potensi sumber daya  migas kita saat ini  cendrung kearah Indonesia bagian Timur serta laut dalam, sehingga dibutuhkan biaya dan resiko kegagalan yang cukup besar," ungkapnya.

Atas pertimbangan tersebut, sektor Hulu melalui Pertamina International EP melakukan ekspansi ke luar negeri dalam rangka mencari sumber daya migas di luar Indonesia serta  menjaga ketahanan energy kita dimana hasilnya digunakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negri yang saat ini mencapai 1.6 juta barrel perhari dan akan terus meningkat setiap tahunnya.

Sementara itu, dua tahun terakhir ini produksi Hulu terus meningkat dan berkontribusi kepada laba bersih Pertamina. Besarnya revenue dan laba di sector Hulu sangat bergantung terhadap harga minyak dunia yang tidak dapat di kontrol.

"Sektor Hulu, harus terus berinovasi dan melakukan efisiensi di tengah harga minyak yang masih rendah tersebut," jelasnya.

Namun, pada tahun 2016, efisiensi biaya operasi hulu sebesar US$834 juta yang menjadi penyokong utama bagi Pertamina  mencerminkan strategi Pertamina Hulu untuk fokus pada lapangan-lapangan kerja yang memberikan dampak finansial besar bagi Pertamina.

Selain itu, Inovasi-inovasi pemasaran produk dan layanan unggulan Pertamina, sentralisasi pengadaan hydrocarbon dan non hydrocarbon, penekanan losses dari program pembenahan tata kelola arus minyak, inisiatif-inisiatif pengolahan, baik efisiensi maupun optimalisasi bottom products, serta pemangkasan biaya operasi kantor pusat pada umumnya memberikan dampak finansial dalam pencapaian target. Kontribusi laba bersih dari Hulu tahun lalu juga masih di atas USS 1 miliar.

Kemudian, di sektor Hilir juga merupakan tulang punggung pemerintah dalam menyalurkan BBM dan LPG keseluruh wilayah Indonesia.Sektor ini mendapatkan tugas dari pemerintah terkait dengan BBM satu harga di seluruh wilayah Indonesia. Ditengah harga minyak mentah  dunia seperti ini, sektor Hilir memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap keuntungan Pertamina. Berdasarkan laporan keuangan Pertamina tahun 2016, *Penjualan BBM pada triwulan III 2016 mencapai 47,77 juta KL atau naik tipis sekitar 4,3% dari 45,81 juta KL pada periode yang sama tahun 2015.

Sementara untuk penjualan Non BBM sampai dengan akhir September 2016 mencapai 6,64 juta KL dari atau naik 4,8% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pertamina melalui sektor Hilir  telah berhasil melakukan penetrasi berbagai varian produk BBM, khususnya Bahan Bakar Khusus Pertamax Series yang meningkat 206% dari periode yang sama tahun 2015, menjadi 6,21 Juta KL.

Untuk BBM penugasan dan PSO telah memberikan laba hinggga 755 juta dolar. Kontribusi BBM PSO dan penugasan mencapai 637 juta dolar dan dari LPG 3 kg sebesar 117 juta dolar. Revenue dari usaha BBM PSO 449,9% lebih tinggi dibandingkan periode sama 2015.

"Tingginya kenaikan laba ini disebabkan oleh rendahnya biaya produk sejalan dengan penurunan harga MOPS (Mid Oils Platts Singapore) dan ICP (harga minyak mentah Indonesia) yang merupakan komponen pembentuk biaya produk," ucapnya.

Sektor Geothermal,dimana merupakan putri cantik yang sedikit di lupakan mempunyai peran yang cukup signifikan. *Pada tahun 2016,PGE berhasil mengumpulkan laba sebesar US 107 juta dan telah berhasil melakukan menghasilkan daya listri sebesar 532 MW dimana mereka terus mengejar target yang diamanatkan   dalam PP No 79 tahun 2014 agar bauran energy bisa mencapai 23% pada tahun 2025 nanti dimana salah satu sumbernya berasal dari panas bumi.Bahkan pada PGE berani memasang target pada tahun 2025 nanti kapasitas yang bisa mereka capai adalah 2.3 GW.

Pertamina,sebagai BUMN kebanggan bangsa Indonesia jangalah di kotak-kotak terkait dengan fungsi dari masing-masing direktorat, karena masing-masing direktorat mempunyai peran yang sama terhadap fungsi dan tanggungjawab untuk memajukan Pertamina dan tetap melayani masyarakat Indonesia.

"Janganlah pola pikir kita terkurung dalam satu kotak pandora sempit sehingga terdapat faksi-faksi didalam tubuh Pertamina.*Bahwa Pertamina itu satu. *Unity indiversity," imbuhnya.

Lanjutnya, Direktur Pertamina yang akan datang harus mempunyai sikap integritas  dan selalu mengedepankan kepentingan Pertamina dan Indonesia. Mindset para pemimpinnya harus mengedepankan: Nation Interests and Corporate Needs"

"Pertamina untung bangsa Indonesia juga untung, semoga pemerintah bisa  menunjuk putra terbaik dalam memimpin Pertamina ke depannya," tutupnya. (Agus)

Penulis:

Baca Juga