OPINI

Mendidik, Menyiapkan Masa Depan

Mendidik, menyiapkan masa depan
Mendidik, menyiapkan masa depan

AKURATNEWS - Sejak semula, secara visioner, proklamator bangsa ini telah menyatakan dengan sangat jelas perihal pentingnya pendidikan bagi anak-anak bangsa, “Bila kita tidak mau menjadi bangsa kuli atau  menjadi kuli diantara  bangsa-bangsa, kita harus menjadi bangsa yang terdidik”. Pendek kata, proses dan aktivitas pendidikan senyatanya merupakan investasi Sumber Daya Manusia (SDM) bagi masa depan.

Dalam konteks gelombang pandemi yang tak kunjung surut seperti saat ini, dibutuhkan adanya keterbukaan dan kejernihan pikir, serta kebesaran hati dalam menyoal dinamika seputar pendidikan. Menjumbuhkan antara idealisme dengan realitas secara obyektif bukanlah perkara yang mudah. Acap kali dijumpai adanya celah kesenjangan yang menghadirkan jarak antar cita-cita dan kenyataan. Pun, dalam menyoal dinamika seputar dunia pendidikan.

Tak sedikit pihak yang mempertanyakan kualitas dari kelangsungan proses pembelajaran dan pendidikan di mendung pandemi ini. Namun yang jelas, dengan atau tanpa pandemi, proses perubahan akan tetap dan akan terus terjadi dalam kehidupan.

Mengingat perubahan merupakan keniscayaan. Dan dalam merespon perubahan, pilihannya hanya satu, memilih beradaptasi untuk segera berubah, atau memilih resisten untuk selanjutnya punah digulung arus perubahan. Apapun pilihannya, tentunya akan diikuti dengan konsekuensi logis sebagai dampak ikutan.

Sebagai pengingat (reminder) untuk beradaptasi, memotivasi diri dan menginspirasi komunitas dalam menyikapi perubahan yang acap mengejutkan; cepat dan tak terduga, terdapat tulisan apik di lantai sebuah pabrik suku cadang mobil di Beijing, China, “Setiap pagi di Afrika, seekor rusa bangun; dan dia tahu bahwa dia harus lari lebih cepat dari singa yang tercepat, atau dia akan dimangsa. Setiap pagi di Afrika, seekor singa bangun; dan dia tahu bahwa dia harus lari lebih cepat dari rusa yang paling lambat atau dia akan mati kelaparan. Tidak penting apakah Anda seekor rusa atau singa; yang penting adalah begitu matahari terbit, Anda lebih baik segera berlari.”  

Di tengah perubahan (disrupsi) yang begitu cepat dan massif, ditandai maraknya pelbagai kreasi dan inovasi, nantinya akan tiba masa dan waktunya bahwa penemuan terbesar umat manusia adalah ketika manusia diberdayakan untuk meningkatkan kualitas kehidupannya dengan mengubah pola pikir, pola sikap, dan pola lakunya. Dan perubahan secara holistik tersebut (pikir, sikap, dan laku) – hanya akan memungkinkan terjadi melalui proses yang bernama pendidikan

Konsekuensinya, sekolah sebagai tempat persemaian bagi insan pemelajar harus menjadi lahan yang subur dalam menumbuhkembangkan setiap potensi personal yang dimiliki oleh peserta didik. Perlu diingat bahwa setiap pribadi anak adalah nomor satu, dengan segala keunikannya masing -masing; dan yang tidak untuk dibandingkan dengan orang lain.

Siap belajar

Proses Belajar Mengajar (PBM)  di sekolah selayaknya menggembirakan dan memerdekakan. Gembira karena melalui aktivitas belajar, dwikodrat manusia boleh mengalami perjumpaan. Yakni kodrat manusia sebagai makhluk yang berpikir (Homo sapiens) dan kodrat manusia sebagai makhluk yang bermain (Homo ludens). Bahwa dalam aktivitas berpikir, manusia menjumpai kesenangan sebagaimana layaknya saat bermain. Pun, ketika bermain; dibutuhkan pemikiran agar permainan dapat berlangsung secara sportif.

Pijar aktivitas nan menyenangkan dalam berpikir dan bermain, dapat mulai ditumbuhkan melalui ragam aktivitas sederhana dalam belajar, seperti:  Belajar mencuci tangan, belajar membuang sampah pada tempatnya, belajar antre dengan benar, belajar tertib di jalan raya, belajar berani meminta maaf apabila berbuat kesalahan, belajar berani mengakui keterbatasan dan kekurangan diri, belajar rendah hati dalam mengajukan pertanyaan, serta belajar menerima pendapat dan masukan dari liyan.

Kesemua hal tersebut nampak sangat sederhana, namun bila boleh dan berani jujur; melalui beragam fenomena keseharian yang dipertontonkan dan banyak dijumpai dan dialami di ruanag publik, tampaknya sikap dan karakter kita sebagai anak bangsa belum cukup dewasa untuk dapat dikatakan – sudah mencerminkan sikap dan karakter unggul tersebut.

Contoh di atas, barulah seputar sikap dan karakter yang dijumpai dalam aktivitas keseharian; belum meluas hingga menyentuh aspek keterampilan dan kesantunan dalam bertutur kata dan berbahasa. Mengingat di era digitalisasi saat ini, banyak bertaburan kabar bohong (hoax) di media sosial.

Sebagai anak bangsa, kita perlu mawas diri untuk mau dan lebih sungguh lagi dalam belajar bahasa (bahasa ibu) hingga benar – benar terampil dan fasih; sebelum terlalu jauh dalam mempelajari bahasa asing sebagai komplemen atas keterampilan diri dalam berkomunikasi secara global dan mendunia.

Dalam belajar bahasa, nantinya jangan sampai lupa akan jatidirinya sebagai putra/i dari ibu pertiwi; sebagaimana yang dipersonifikasikan dalam sosok Hanafi dalam novel Salah Asuhan karya Abdul Muis; yang usai belajar di negeri orang, gaya hidupnya lantas berubah, menjadi lupa akan identitas dirinya. Kecintaannya atas kearifan dan nilai keutamaan budaya nasional pun menjadi luntur.

Ringkasnya, dalam upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, situasi dan kondisi pandemi pantang menjadikan spirit anak bangsa menjadi luntur dan surut dalam belajar. Aktivitas pembelajaran dan pendidikan haruslah produktif dan berkualitas guna menyiapkan dan memperlengkapi  setiap anak bangsa dengan ragam kompetensi dan keterampilan yang dibutuhkan kelak di masa depan.

Untuk itu, mari siapkan diri untuk belajar. Selama diri ini sudah siap belajar, maka gurunya akan datang; dimanapun, kapanpun dan dari siapapun – selama nantinya dapat bermanfaat bagi masa depan diri dan bagi sesama; keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Senada dengan ungkapan Hillel, “Kalau aku bukan untuk diriku, lalu untuk siapa aku ini. Namun, bila aku hanya untuk diriku, lalu untuk apa aku ini.”

Baca Juga