OPINI

Mengorkestrasi Aktivitas Belajar di Masa Pandemi

Ilustrasi Belajar Online
Ilustrasi Belajar Online

AKURATNEWS - Sebagai wabah global pandemi merupakan musibah. Bagi perubahan, pandemi adalah hadiah. Hadir sebagai katalis bagi perubahan. Untuk itu, dalam kerangka berpikir dan perspektif positif, apabila kita mau, ada celah, di mana kita bisa menggemakan ucapan terima kasih ke ruang publik atas kehadiran pandemi.

Bagi detak dan denyut dunia pendidikan, khususnya terkait Proses Belajar Mengajar (PBM) yang berlangsung secara jarak jauh dalam jaringan (online), masa pandemi menjadi momentum bagi para insan pendidikan untuk berinovasi; menggeliat dan melenting ke atas dengan segala kreativitas dan inovasi.

Pintu kreativitas terbuka lebar bagi para insan pendidik, dengan segala potensi yang dimiliki untuk menemukan ragam terobosan terkait bagaimana merancang PBM sedemikian rupa sehingga perjumpaan dan komunikasi peserta didik dan pendidik melalui layar monitor tetap mencerahkan (enlightment), memperkaya (enrichment), dan memberdayakan (empowerment).

Ringkasnya, pandemi mengkonfirmasi bahwa ternyata PBM tetap dapat dilangsungkan dengan efektif dan berkualitas meskipun via online.  Pandemi yang beririsan dengan era revolusi industri 4.0 (cyber physical system) ini, membutuhkan kepekaan dan kreativitas para insan pendidik dalam memikirkan dan merancang metoda ajar yang tepat, termasuk pemilihan platform dan perangkat teknologi yang cocok.

Tak dipungkiri bahwa pandangan ini acap berbenturan dengan pemahaman konvensional perihal belajar; yang meyakini bahwa perjumpaan dan interaksi langsung secara fisik antar peserta didik dan pendidik merupakan prasyarat mutlak bagi penyelenggaraan PBM yang bermutu. Bagi para visioner, meminjam pendapat Rhenald Kasali (2017) dalam bukunya berjudul ‘Tomorrow is Today’, membaca, mengeskplorasi, dan mengendalikan masa depan bukan untuk dilakukan pada hari esok, melainkan hari ini.

Kesadaran Baru

Dibutuhkan kesadaran baru, lengkap dengan keluasan cakrawala pemikiran dan keberanian untuk keluar dari perangkap paradigma konvensional sebagai zona nyaman guna mulai membiasakan diri untuk belajar nyaman ditengah ketidaknyamanan perubahan sebagai dampak ikutan dari pandemi.

Yang dibutuhkan peserta didik saat ini, bukanlah aktivitas belajar yang sekedar mengingat dan menghafal, melainkan keterampilan berpikir secara kritis; bagaimana melakukan klasifikasi, analisis dan sintesis, evaluasi bahkan kemampuan untuk berdayacipta. Sekiranya tidak demikian, maka kondisi peserta didik di era ‘banjir informasi’ ini tak ubahnya seperti metafora anak ayam mati di lumbung. Di tengah kemelimpahan sumber daya, justru mati akibat ketidakmampuan dalam menyaring, mencecap dan mencerna informasi secara sehat dan produktif.

Perlu disadari bahwa esensi PBM adalah proses pembentukan dan pemberian makna (value) atas kehidupan. Kebermaknaan PBM hanya memungkinkan terjadi ketika dalam prosesnya mampu mempertemukan dan mensinergikan antara aneka pengalaman personal peserta didik dengan bahan ajar yang dipelajarinya.

Ketika keduanya; pengalaman personal dan bahan ajar berkelindan, melekat tak terceraikan satu sama lain, maka PBM akan sarat makna. Disamping menjadi kontekstual dan relevan, tercipta suasana iklim PBM yang memanusiakan dan memartabatkan. Tampak melalui model percakapan (dialog) akademis yang tumbuh, sifatnya mengkonfirmasi; memberikan penguatan dan peneguhan atas pengalaman belajar personal peserta didik.

Melalui panca indera yang aktif non stop 24 jam sehari, peserta didik menyerap dan mencecap aneka informasi (stimulus) dari lingkungannya. Kesemua hal yang didengar, dilihat, dicecap, dan diraba; senyatanya merupakan anasir sumber pengetahuan yang perlu mendapatkan konfirmasi dari para guru melalui dialektika akademik; logis dan ilmiah saat PBM berlangsung.

Dengan demikian, peserta didik turut diberdayakan dan terlibat secara aktif dalam proses menemukan, menganalisis dan melakukan sistesis, serta dalam memaknai tiap-tiap pengalaman belajar sebagai peristiwa personal nan bermakna. Inilah esensi dari PBM yang memerdekakan dan membahagiakan.

Perlu diingat bahwa proses dan cara belajar seseorang merupakan pengalaman personal yang unik (khas); berbeda antar pribadi. Apabila seorang anak murid berhasil dalam belajar dengan menggunakan suatu metoda tertentu, maka metoda tersebut tidaklah dengan serta merta secara otomatis menjamin keberhasilan ketika diterapkan untuk anak murid lainnya.

Pengabaian atas unsur keberagaman (heterogenitas) terhadap minat dan model belajar, acapkali menjadikan insan pendidik keliru dalam melakukan analisis dan memberikan diagnosa; setiap pribadi peserta didik cenderung dianggap seragam dan diperlakukan sama dalam hal gaya belajarnya.

Sejarah mencatat, tak sedikit tokoh kelas dunia yang dulunya sempat keliru terdiagnosa oleh gurunya. Winston Churchill sempat dikeluarkan dari kelas bahasa Latin. Thomas Edison, pernah dipulangkan ke rumah dengan sebuah catatan oleh gurunya yang mengatakan bahwa ia terlalu bodoh untuk belajar dan tidak punya harapan. Louis Pasteur juga dianggap oleh gurunya sebagai anak yang lambat belajar di dalam kelas kimia.

Terkait bagaimana upaya guru meramu, mensinergikan dan menyajikan (mengorkestrasi) PBM secara berkualitas, dibutuhkan keterampilan dan seni ala Intrapreneur Bintang, yakni kemampuan untuk mengintegrasikan dan mengharmonisasikan pola pikir konstruktif, pola sikap positif, dan pola tindak produktif dengan komunitas lingkungan belajar sebagai teman berpikir, lawan bicara, dan rekan bertindak (Bernardus, 2017).

Ringkasnya, ketika para insan pendidik dengan penuh kesungguhan dan sepenuh hati mau untuk belajar dan berubah, berpikir positif bahwa di balik setiap tantangan terselip adanya kesempatan, serta selama pijar spirit kolaborasi, daya kreativitas dan inovasi terus ditumbuhkan dan diasah, niscaya pandemi tak lagi menjadi penghambat dalam upaya melahirkan generasi emas bangsa yang unggul; cerdas dan berkarakter. Inilah orkestrasi pendidikan yang kita rindukan bersama, memanusiakan dan memartabatkan.

Baca Juga