Opini

Mengulas Sejarah: Hantu Komunis (Masih) Ada atau Tiada?

Akuratnews.com - “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” Istilah ini digaungkan oleh Bung Karno dihadapan demonstran yang menuntut pertanggungjawaban akan peristiwa G30 S PKI. Banyak diantara yang memahami bahwa peristiwa G30 S PKI berlatar belakang tentang bengisnya PKI atau yang sering disebut sebagai orang kiri, sehingga menimbulkan persepsi bahwa PKI atau Partai Komunis Indonesia harus diberanguskan dari tanah air.

Doktrin ini kian disebarkan kepada mereka yang bahkan tidak turut serta di dalamnya. Generasi muda yang lahir pasca peristiwa―dan hingga kini, kian memahami bahwa segala hal yang berbau tentang PKI atau Marxisme/Lenimisme harus dihindari. Ketidaktahuan mereka semakin dibumbui dengan informasi yang tidak pasti akan kebenarannya.

Mendekati penghujung September, film G30 S/PKI kerap ditayangkan secara serempak di berbagai stasiun televisi tanah air, meskipun kini bersifat tidak wajib. Film ini menggambarkan peristiwa kudeta yang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia sehingga menyebabkan penanaman akan stigma bahwa PKI adalah kejam dan tidak berperikemanusiaan. Akibatnya adalah film ini menjadi monster yang mengerikan bagi generasi satu dan lainnya, maka tidak mengherankan jika PKI menjadi dibenci dan dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Selain itu, berbagai media acap kali menyorot penyitaan buku dengan judul yang menyinggung terkait PKI dan sejenisnya. Seberapa crusialkah hal tersebut diberlakukan sehingga dirasa darurat dengan kondisi yang sekarang ini?

Sebagaimana bunyi pasal 188 ayat 1 RUU KUHP, “Setiap orang yang menyebarkan atau mengembangkan ajaran komunisme/marxisme-leninisme di muka umum dengan lisan atau tulisan termasuk menyebarkan atau mengembangkan melalui media apapun dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun.” Sedangkan mereka yang melakukan kajian terhadap ajaran yang sama namun untuk kepentingan ilmu pengetahuan tidak dapat dikenakan pidana sebagaimana bunyi Pasal 188 ayat 6.

Ketakutan apa yang menyebabkan pemerintah turut serta mencetuskannya dalam per-undang-undangan? Bagaimana jika ketakutan disebabkan dari adanya ketidaktahuan?

Kembali membicarakan sejarah

PKI atau Partai Komunis Indonesia merupakan partai kelas buruh dengan faham Marxisme-Lenimisme di dalamnya yang lahir pada tahun 1925. Ia lahir sebagaimana bentuk pertentangan adanya imperialisme yang ditanamkan Belanda pada masa itu. Marxisme-Lenimisme merupakan penggabungan dua buah pemikiran yang berbeda, dan menjadi satu kesatuan yang kemudian dikenal sebagai komunisme.

Komunisme dipahami sebagai sebagai ideologi/cara pandang yang memiliki paham bahwa semua adalah sama rata, mengahapuskan kesenjangan antara kaum pemilik modal dengan kaum pekerja, atau yang identik disebut sebagai kaum buruh. Komunisme lahir sebagai bentuk pertentangan dari adanya sistem kapitalis yang muncul pada abad pertengahan; diusung oleh Marx dan diwujudkan sebagai aksi nyata oleh Lenin. Fenomena ini turut dirasakan di negara Indonesia, yakni dari adanya sistem tanam paksa yang digalakkan oleh Belanda pada masa penjajahan dulu.

Secara singkat, Indonesia pada masa kepemimpinan Bung Karno yang juga dipengaruhi pula oleh ide-ide komunis. Hal ini didukung dengan adanya konsep politik yang dicetus oleh Bung Karno; Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme).

Kembali lagi kepada hakekat akan konsep komunis yang diusung oleh Marxis. Paham komunis yang kian termajinalkan hanyalah kontekstual. Sebagaimana negara yang menganut komunis seperti Rusia maupun Cina atau Korea Utara, kini berangsur-angsur mulai meninggalkan ideologi kirinya. Sebagaimana Indonesia yang tetap berkiblat pada Pancasila, jadi apa yang perlu dirisaukan?

Sayangnya, propaganda sejak orde baru merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan oleh zaman meskipun modernitas sudah menyentuh NKRI. Sejarah telah tertinggal jauh di belakang, dengan menghadirkan banyak versi jalan cerita yang berbeda. Film G30 S/PKI merupakan versi orde baru yang selalu diajarkan di sekolah-sekolah yang secara tidak langsung, versi ini menggiring penontonnya untuk membenci PKI.

Peristiwa tentang kekejaman PKI dimulai dengan meletusnya peristiwa pemberontakan PKI atau peristiwa Madiun 1948, yang merupakan bukti nyata bahwa ideologi kiri pernah menyebar luas di Indonesia. Semua tertuju pada PKI sebagai biang kerok dari semua ini. Tokoh PKI D.N Aidit menyatakan bahwa pemberontakan PKI Madiun adalah provokasi Hatta. Maka, inilah versi lain yang menghadirkan jalan cerita yang berbeda.

Versi lain dari serangkaian peristiwa 1948 dan 1965

Pada saat itu, Musso baru kembali dari Moskow dan membawa misi ke Indonesia, yang dikenal sebagai “Jalan Baru untuk Republik Indonesia”, menyerukan kerja sama dengan Uni Soviet guna mematahkan blokade Belanda. Hal ini sepenuhnya mendapat dukungan dari Bung Karno. Perdana Menteri Hatta menanggapi tindakan Musso dengan membuka perundingan, namun Hatta tak tertarik dengan konflik Internasional antara Amerika dan Rusia. Namun, konflik mulai memuncak di Solo, manakala pasukan Senopati dan Siliwangi terjadi aksi culik-menculik. Tiada lain tiada bukan, bahkan Bung Karno menyatakan bahwa kejadian penculikan di Solo juga turut menjalar hingga Madiun dan menyebabkan daerah Madiun menjadi tegang adalah tidak berdiri sendiri. Walikota Madiun saat itu sedang sakit, wakil residen tidak mengambil tindakan apa-apa, sedangkan kondisi kota kian pelik, maka Front Demokrasi Rakyat atau FDR yang PKI masuk di dalamnya mengambil tindakan pengangkatan Wakil Walikota menjadi Wakil Residen. Sementara, hal ini dianggap oleh Hatta sebagai tindakan “mengadakan kudeta” dan “mendirikan pemerintah Soviet”. Di samping itu, penculikan di Solo dituduhkan kepada pasukan Siliwangi sebab pembunuhan dua tokoh PKI dan lima perwiranya. Buktinya, penculikan ini ternyata dibawa ke dalam kamp resmi  di Danurejan, Yogyakarta.

Loncat pada linimasa mengenai tragedi 30 September, PKI dianggap sebagai dalang (lagi) demi merebut kekuasaan dengan membunuh para Jenderal Angkatan Darat. Peristiwa 1948 dianggap sebagai kegagalan PKI dalam mendirikan Negara Soviet sehingga 1965 dinilai sebagai Bangkitnya PKI kembali. Sementara itu, beberapa sejarawan meyakini peristiwa 30 September adalah manuver politik terkait perang dingin. Merapatnya Bung Karno kepada pihak Uni Soviet menyebabkan Amerika khawatir. Teori ini diulas oleh penulis buku ‘Tjakrabirawa’. Aksi ini dimulai dari politik antikomunis oleh militer atas bantuan sekutunya: Amerika Serikat. Mereka takut jika Sukarno dan PKI menggunakan kampanye Ganyang Malaysia untuk melemahkan monopoli TNI yang menyebabkan PKI merebut kekuasaan di Indonesia.

Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani memiliki kontrol Angkatan bersenjata yang langsung di bawah Bung Karno. Militer memancing konfrontasi dengan menculik dan membunuh enam perwira TNI―termasuk  Ahmad Yani. Lantas Soeharto mengisi kekosongan Jenderal Ahmad Yani dan juga mempertahankan posisi strategisnya, mengabaikan wewenang Bung Karno. Ia menyatakan bahwa kudeta telah terjadi di Ibu Kota dengan mengirimkan telegram ke panglima regional, yang menyatakan bahwa para komandan militer harus menunggu perintah/instruksi selanjutnya. Pengambilalihan Angkatan bersenjata kian memuncak lantaran pidato oleh Suharto tepat pada ulang tahun TNI di Jakarta. Sementara itu, Bung Karno sulit mengambil keputusan. Suharto tidak merasa perlu menyatakan kudeta sebab hal tersebut telah diketahui secara luas.

Apakah PKI benar-benar akan kembali?

Menilik kondisi Indonesia yang sekarang, dengan berbagai permasalahan yang tiada habisnya sepertinya membicarakan akan PKI yang komunis sudah dianggap tidak darurat. Banyak permasalahan yang seharusnya dapat diperbaiki dengan tuntas. Jika hendak menyinggung permaslahatan PKI dengan ideologi yang (masih) ditakuti, semestinya hal ini harus dikaji secara dalam. Namun, bagaimana hendak mengkaji jika sumber bacaan saja disita oleh aparat? Pun juga menonton film ‘Senyap’ yang merupakan film dokumenter sejarah dengan menghadirkan para pelaku pembunuhan G30 S/PKI yang secara gamblang menceritakan bagaimana kejinya mereka menyiksa korban pada saat itu, juga dibubarkan. Jadi, mau bagaimana? Logikanya, jika mereka benar-benar bangkit, seharusnya ada tanda-tanda aktivitas yang dilakukan.

Masih banyak hal yang dianggap lebih genting daripada mengelu-elukan hal ini, dan menganggap bahwa mereka yang membahas ini juga membenarkannya. Pembahasan ini harus dibawa oleh pemikiran yang terbuka, dan tidak menutup cara pandangnya lantas berdebat tiada ujungnya.

Baca Juga