Opini

Minus Visi, Dunia Pendidikan Berorientasi Industri

Akuratnews.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (mendikbud) Nadiem Makarim mendorong upaya membangun 'perjodohan ' atau kerjasama antara perguruan tinggi atau kampus dengan industri. Strategi ini dinilai penting agar perguruan tinggi dan industri bisa terkoneksi untuk saling memperkuat keduanya. Menurut Nadiem, kampus bisa menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan dunia usaha (lensaindonesia.com.04/07/2020).

Kata Nadiem, pemerintah memiliki sejumlah peran yakni sebagai pendukung, regulator dan katalis. Meski demikian, pemerintah tidak bisa memaksa pihak kampus dan industri untuk bermitra lewat regulasi, melainkan dengan berbagai macam insentif untuk berinfestasi di bidang pendidikan, misalnya lewat penelitian. Dia menjelaskan, bahwa kemendikbud telah menjalankan program kampus merdeka. Salah satunya untuk menghasilkan mahasiswa yang unggul dan bisa menjadi pendisrupsi revolusi industri 4.0.

Selain itu, diungkapkan juga bahwa kementrian keuangan ( kemenkeu) telah mengeluarkan insentif terkait sejumlah penelitian Vokasi. Hal ( insentif ) itu juga akan terus kami kembangkan untuk membuat para industri tertarik berpartisipasi dengan pihak kampus.

Hal tersebut pun dipertegas Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto,ph,D, ia menjelaskan tujuan utama program penguatan program studi (prodi) pendidikan Vokasi tahun 2020 tersebut "progràm ini diluncurkan agar kompetasi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja (kagama.co 26/5/2020).

Masih dari sumbar yang sama Wikan menambahkan, sekitar 100 prodi Vokasi di PTPN dan perguruan tinggi swasta ( PTS ) ditargetkan melakukan pernikahan massal. Pada tahun 2020 dengan puluhan atau bahkan ratusan Industri. Kemudian program ini akan terus dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya dengan lebih banyak melibatkan prodi Vokasi. Wikan pun mengaku optimis program' pernikahan massal' akan menguntungkan banyak pihak.

Tampaknya kebijakan yang diambil pemerintah ini. Tidak hanya akan menguntungkan dunia pendidikan, tapi industri. Namun perlu kita cermati lebih dalam persoalan didunia pendidikan akan semakin menguatkan ketidakjelasan kemana arah pendidikan negeri ini.

Sebab dengan adanya pernikahan massal ini, pemerintah semakin mengokohkan peran lembaga pendidikan sebagai pencetak tenaga kerja bagi dunia industri sehingga nasib para mahasiswa tak ubahnya seperti kelinci percobaan didunia kerja. Yang mana jika mempunyai skill ataupun kemampuan dirinya layak dipakai, namun jika tidak maka akan ditendang.

Sementara itu, disisi lain kesenjangan masih menjadi polemik. Buruknya sistem aggaran untuk pendidikan membuat gap antara pusat dan daerah selalu dalam kondisi memprihatinkan, Baik soal aksebilitas ketersediaan sarana prasarana pendidikan, maupun ketersediaan tenaga pendidik yang berkualitas. Hingga pemerataan kualitas pendidikan menjadi PR pemerintah yang tak kunjung selesai. Kemudian saat ini arah pendidikan kita semakin tidak jelas, semakin menegakan
negara seolah-olah berlepas tangan menyerahkan segala urusan pendidikan kepada mekanisme pasar. Bukan berperan guna mempersiapkan pendidikan yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi Negara. Maka wajar jika apa yang disebut dengan " Merdeka Belajar " dan " Pendidikan Untuk Semua" hanya sebagai isapan jempol semata. Tanpa bisa terealisasi dengan baik dan benar.

Hal ini tentu mencoreng wajah dunia pendidikan. Pendidikan yang semestinya bervisi membangun kepribadian untuk manusia sebagai hamba Allah Kholifah Fil Ardhi, dikerdilkan hanya untuk mencetak manusia bermental buruh.

Semua ini terlepas dari negara yang berparadigma kapitalis-liberal yang justru mengarahkan pendidikan menjadi salah satu instrumen global, yang bersembunyi dibalik kata Investasi, Korporasi dan Revolusi industri. Nyatanya, kebijakan sistem pendidikan saat ini sangat dominan dengan hitung-hitungan untung rugi dalam ekonomi. Dengan berdalih demi peningkatan kemampuan produksi, serta semacamnya. Padahal itu semua adalah hegemoni kaum kapitalis yang berwujud dalam bentuk korporasi. Dan inilah yang kita lihat saat ini.

Negara begitu optimis guna mendorong tumbuhnya institusi-institusi pendidikan Vokasi. Serta gencar menggagas pendidikan berbasis kerjasama dengan industri. Sehingga tidak heran jika Negara nampak begitu bersemangat memfasilitasi berbagai kerjasama pendidikan. Antara institusi pendidikan dan korporasi.

Dengan adanya wacana Revolusi Industri 4.0 dalam program kampus merdeka, ini cukup membuktikan bahwa hal tersebut sejalan dengan proses kapitalisasi dan liberalisasi ekonomi. Dimana Negara berparadigma sekuler-kapitalis -liberal, lazim berkolaborasi dengan kekuatan korporasi.

Sehingga arah pendidikan yang diterapkan saat ini, tak ubah seperti mesin pensuplai kebutuhan pasar tenaga kerja bagi Industri raksasa milik negara-negara adidaya. Bukan sebagai pilar guna membangun peradapan yang cemerlang.
Sehingga konsep pendidikan yang bervisi kapitalis menjadi citra buruk yang melekat bagi dunia pendidikan. Mahasiswa dijadikan tak ubahnya sapi perah yang mana potensi mereka dijajah dan dijarah tanpa Ampun.

Seperti lingkaran yang tak berujung permasalahan pendidikan di negeri ini yang semakin menunjukkan potret buram dunia pendidikan ala kapitalis. Dan dampaknya akan terus membuat negeri ini terposisi sebagai objek penjajahan. Tak berdaulat dan jauh dari kemandirian.

Pernikahan massal ini kian memperjelas mandulnya peran Negara dalam menjalankan fungsinya sebagai pelayan rakyat. Seluruh mekanisme pendidikan, pengajaran juga pengabdian kepada masyarakat seharusnya dibiayai oleh Negara secara gratis karena itu sudah menjadi hak rakyat untuk bisa menikmati pelayanan dari Negara sebagi penopang kebutuhan rakyat. Namun sayang pada faktanya semua dimanfaatkan seluruhnya untuk kepentingan para modal dan dikomersilkan kepada rakyat.

Jika dalam sistem kapitalis untuk bisa mendapatkan sebuah pendidikan kita meski mengeluarkan biaya yang cukup lumayan mahal, sementara hasilnya hanya mampu mencetak mahasiswa kita menjadi generasi bermental buruh. Tentu hal ini sangat berbeda jauh dalam sistem pendidikan Islam.

Sebab visi pendidikan dalam Islam ialah untuk melahirkan generasi yang memiliki nafsiyah ( kepribadian) dan aqliyah ( pola pikir) Islam. Sehingga bisa menghantarkannya kepada ketaatan sebagai seorang hamba. Hal tersebut mendorongnya mengetahui tujuan penciptaan manusia, yakni hanya untuk beribadah kepadanya.

Sistem pendidikan Islam menerapkan kurikulum berdasarkan aqidah Islam. Segala sarana dan prasarana penunjang untuk memfasilitasi mahasiswa ditanggung oleh Negara. Bahkan pelayanan pendidikan diberikan secara gratis dan berkualitas.

Tenaga pendidik didatangkan sesuai dengan keahlian pada bidangnya, asrama disiapkan bagi pendidik, bahkan mendapat uang saku bulanan. Dan seluruh fasilitas dengan mudah didapatkan.

Karena seluruh biaya pendidikan dalam Negara Khilafah diambil dari baitul mal, yakni dari pos fai' dan kharaj serta pos milkiyah'amah. Inilah kemudahan dan kemaslahatan yang didapat oleh rakyat. Mereka dapat memperoleh pendidikan tanpa terbebani dengan biaya yang cukup mahal.

Tidak hanya itu, pendidikan tinggi juga bertanggung jawab mencetak pemikir, ilmuwan handal yang menguasai sains dan teknologi. Dan yang terpenting dari semua itu outpout pendidikan tinggi adalah SDM yang memiliki kepribadian yang cemerlang. Sehingga menghasilkan generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang benar.

Sebab dalam Islam penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan membantu Negara dalam menyelesaikan problem masyarakat. Visi pendidikan adalah untuk mencetak generasi yang dapat mengabdikan ilmunya untuk rakyat.
Kebermanfaatan ilmu kaum intelektual semata-mata guna mencerdaskan kehidupan rakyat, karena sejatinya ahli ilmu adalah penerang atas gelapnya kebodohan.

Negara tidak akan membiarkan dunia pendidikan dikuasai pemodal dan tak akan membiarkan para ilmu menghantarkan ilmunya bagi kalangan elite tertentu saja. Semua akan didapat secara merata bagi semua golongan.

Maka kini sudah saatnya sistem pendidikan negeri ini diubah secara total dan mendasar, dan mengembalikan Visi pendidikan pada tujuan sebenarnya, yakni mencetak generasi berkepribadian Islam. Melalui perjuangan pemikiran, dan segera kita campakkan serta kita buang jauh-jauh sistem kapitalis-sekuler yang sudah terbukti menjadi biang kerok dari berbagai sumber persoalan kehidupan kita saat ini.
Wallahu A'lam Bishowab.

Penulis: Rini Astutik

Baca Juga