Kedua Belah Pihak Saling Melancarkan Tarif Terhadap Barang Impor

Perang Dagang AS vs China Masuki Episode Baru

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar yen Jepang menguat 0,3 persen terhadap dolar AS. Adapun dolar Selandia Baru melemah 0,5 persen, kinerja terburuk di antara mata uang negara G-10. Sementara itu, nilai tukar yuan offshore terdepresiasi 0,15 persen menjadi 7,1732 per dolar AS.

Selain itu, indeks futures ekuitas AS dan Jepang turun di awal perdagangan Asia. Indeks futures S&P 500 dibuka 1 persen lebih rendah sebelum mampu mengurangi sebagian penurunannya.

Kendati pemerintahan Trump telah menepis kekhawatiran tentang perang dagang yang berkepanjangan, kelompok-kelompok bisnis menyerukan agar kedua negara berupaya melakukan gencatan senjata tarif dan memulai kembali negosiasi perdagangan.

Kepada awak media pada Minggu (1/9), Trump mengatakan rencana tatap muka antara tim negosiator perdagangan China dan AS yang dijadwalkan berlangsung pada bulan ini masih berlaku.

“Kami sedang berbicara dengan China, pertemuan masih sesuai jadwal,” ujar Trump, sebagaimana diberitakan Bloomberg. Ia menegaskan pernyataan bahwa China-lah yang mengalami kerugian atas pengenaan tarif.

“Kita tidak bisa membiarkan China merobek kita lagi,” tambah Trump.

Di sisi lain, China telah berulang kali mengecam taktik tekanan AS, dengan tanda-tanda bahwa para pejabatnya siap menghadapi konfrontasi yang berkepanjangan.

"Tekad China untuk memerangi perang ekonomi AS hanya telah tumbuh lebih kuat, dan penanggulangannya lebih tegas, terukur, dan memiliki tarhet,” menurut kolom komentar oleh kantor berita resmi Xinhua News Agency pascapengenaan tarif tersebut.

“Satu hal yang pria-pria di Gedung Putih harus pelajari adalah bahwa ekonomi China kuat dan cukup tangguh untuk melawan tekanan yang ditimbulkan oleh perang perdagangan yang sedang berlangsung,” lanjutnya.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Redaksi
Editor:Redaksi

Baca Juga