Pemilu 2019

Saatnya Rakyat Memilih

Opini, Akuratnews.com - Besok, Rabu 17 April 2019 rakyat Indonesia akan melakukan Pemilihan Umum (Pemilu) anggota Legislatif sebagai wakil mereka yang akan duduk di DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi serta DPRD Kabupaten/Kota. Sekaligus pemilihan Presiden dan Wakil Presiden periode 2019 - 2024. Untuk Warga Indonesia yang berada di luar negeri Pemilu 2019 sudah dimulai lebih cepat beberapa hari lalu yakni pada 14 April 2019 .

Pemilu 2019 kali ini berbeda dengan Pemilu sebelumnya karena dilakukan secara serentak antara Pemilihan Legislatif dengan Pemilihan Presiden. Rakyat kali ini harus memilih 5 kertas suara yang berbeda warna berisi puluhan nama dan belasan partai politik yang terpampang di kertas-kertas suara. Hal ini sudah tentu membuat sebagian rakyat merasakan rumit dan bisa jadi membingungkan untuk memutuskan pilihannya. Selain membingungkan, disadari bahwa tidak semua masyarakat pemilih memiliki daya nalar dan pahaman yang sama dengan banyaknya kertas suara dan pilihan mereka. Bukan tidak mungkin ketidak tahuan mereka menyebabkan suara suara yang menjadi hak mereka gugur tanpa disadari.

Dengan Pemilu 2019 yang diselenggarakan secara serentak, bisa jadi para pemilih akhirnya hanya akan memperhatikan pemilihan presiden karena hanya ada dua gambar pasangan calon saja. Selebihnya, untuk pemilihan legislatif DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota, karena banyaknya gambar partai dan gambar calon legislatif bisa jadi mereka akan memilih dengan cara asal nyoblos tanpa memperdulikan lagi siapa dan partai apa yang dicoblos, ibarat membeli kucing dalam karung.

Dalam kehidupan demokrasi memilih Wakil Rakyat sebenarnya sama pentingnya dengan memilih Presiden dan Wakil Presiden. Sistem tata negara kita menganut trias politika: eksekutif, legislatif dan yudikatif yang setara kedudukannya serta sama-sama penting perannya. Para wakil rakyat bertugas membuat undang-undang, melakukan pengawasan terhadap pemerintah, dan ikut menentukan alokasi penggunaan anggaran belanja. Karena sangat penting, maka seharusnya rakyat pemilih tidak gegabah dan asal asalan dalam memilih wakil wakilnya di legislatif. Jika itu terjadi, sudah bisa dibayangkan bagaimana hasilnya dikemudian hari apakah memberi manfaat bagi masyarakat atau sebaliknya.

Demokrasi di Indonesia seharusnya memang diharapkan sudah semakin maju. Meskipun saat ini rakyat sudah bisa memilih langsung wakil wakilnya di DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota rakyat tidak lagi sekedar memilih lambang partai, namun jika salah dalam menentukan pilihan maka dampaknya juga akan dirasakan oleh rakyat secara keseluruhan.

Sejak peralihan politik Indonesia tahun 1998 lalu, rakyat Indonesia berkesempatan memilih orang secara langsung, dan partai politik yang mereka akui mampu membawa aspirasi rakyat. Sewajarnya calon pemimpin maupun wakil rakyat lebih terikat kepada konstituennya (para pemilih) dibandingkan sebelum-sebelumnya. Ini bisa terjadi karena rakyat memilih kandidatnya sudah lebih dahulu mengenal track record orang orang dipilihnya yang benar-benar bisa menyuarakan aspirasi rakyat.

Memilih Berdasarkan Kriteria

Persyaratan untuk anggota legislatif sudah diatur dalam Undang-Undang nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Dewan Perakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Apa yang sudah disepakati dalam Undang-undang adalah yang menjadi keharusan bagi tiap parpol untuk menerapkan bagi setiap calegnya. Sementara, jika ada persyaratan teknis lain yang secara spesifik mengatur persyaratan caleg, maka itu menjadi tanggung jawab parpol bersangkutan. Sementara syarat menjadi capres dan cawapres tertuang dalam Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2014 dan memiliki 18 kriteria.

Dalam memilih calon pemimpin maupun wakil rakyat kriteria yang penting diantaranya adalah 'dapat dipercaya', karena menjadi Pemimpin maupun Wakil Rakyat adalah amanah. Karenanya harus diisi orang yang dapat dipercaya.

Dari berbagai sumber menyebutkan, kepercayaan terdiri atas dua komponen. Pertama, JUJUR. Orang yang suka berbohong, umbar janji manis sebaiknya jangan dipilih. Gunakan naluri dan panca indera dalam menilai apakah seseorang konsisten atau tidak, apakah perkataannya sesuai dengan perbuatannya atau tidak. Soal kejujuran, tentu harus melihat track record perilaku caleg tersebut di masa lalu.

Ciri khas orang jujur adalah berani TRANSPARAN. Jadi, sejauh mana calon pemimpin maupun wakil rakyat terbuka, mudah diakses? Kebersediaan untuk transparan dalam berinteraksi dengan pemilih menjadi kriteria yang sangat penting. Sejauh mana mereka membuka diri , apakah transparan atau banyak yang ditutup tutupinya.

Kedua adalah KAPABILITAS. Soal kemampuan ini, lihatlah sepak terjang mereka dalam kegiatan sosial di masyarakat. Penyaluran aspirasi rakyat harus dekat dengan masyarakat, tak bisa hanya modal tenar, penampilan dan pandai menghibur saja.

Selain aktivitas sosial, kapabilitas bisa pula dilihat dari latar belakang pendidikan. Pendidikan tidak boleh dipandang remeh. Menjadi Pemimpin maupun dewan perwakilan rakyat seyogyanya diisi orang-orang “cerdas” yang mampu menangkap persoalan dengan cepat dan benar serta punya solusi, bukan mereka yang berpikiran pendek, berwawasan sempit dan mudah dikelabui para mafia.

Dengan melihat track record kegiatan sosial dan pendidikan, yang tidak kalah penting harus diperhatikan adalah tentang gagasan dan program yang mereka tawarkan.

Oleh karena itu masyarakat pemilih haruslah memahami dalam memilih calon pemimpin maupun wakil rakyat yakni Dipercaya, Jujur, Transparan dan Kapabel. Idealnya memang mau tidak mau masyarakat haruslah mengenal secara pribadi calon pemimpin maupun wakil rakyat yang akan dipilih. Memang kondisi tersebut tidaklah mudah untuk mendapatkannya. Yang di kenal belum tentu juga baik, apalagi yang tidak dikenal.

Semakin banyak masyarakat mengenal calon pemimpin maupun wakil rakyat, semakin baik karena rakyat bisa membanding-bandingkan. Warga negara yang baik (yakni yang peduli akan masa depan diri dan bangsanya) akan meluangkan waktu untuk menseleksi calon pemimpin maupun wakil rakyat yang akan mewakilinya.

Bila rakyat malas menyeleksi calon pemimpinnya maupun wakil rakyatnya maka bisa jadi yang dipilih juga malas memperjuangkan aspirasi rakyat. Pemimpin maupun Wakil rakyat yang cerdas dan aspiratif adalah pilihan dari para pemilih yang cerdas dan aspiratif pula.

Pilih Sesuai Hari Nurani

Sekali lagi, pesta demokrasi Pemilu 2019 haruslah menjadi tolak ukur berjalannya kehidupan berdemokrasi dalam membangun bangsa dan negara menuju masyarakat yang adil dan sejahtera. Adalah tanggung jawab para penyelenggara Pemilu 2019 bersama masyarakat, aparatur sipil negara dan aparat negara untuk mengawal suksesnya Pemilu 2019. Memilih calon pemimpin dan wakil rakyat yang mampu mempersatukan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, persatuan dan kesatuan sebagaimana cita cita para pejuang dan pendiri bangsa ini yakni bangsa dan negara yang kuat, mandiri, adil dan sejahtera dalam kerangka kebhinneka tunggal ika dan dasar negara pancasila. Untuk mewujudkannya, maka memilih calon pemimpin dan wakil rakyat sesuai hati nurani adalah hal yang tidak bisa terelakkan.

Harapan masyarakat dalam pesta demokrasi 17 April 2019 besok tentu agar dapat menggunakan hak politik dan hak suaranya masing masing dengan sebaik baiknya serta
dapat berjalan dengan aman, damai, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil sehingga akan terpilih calon pemimpin dan wakil rakyat yang sesuai dengan aspirasi rakyat menuju Indonesia yang berdaulat dan bermartabat. Selamat berpesta demokrasi. *
*) Penulis adalah Ketua Gerakan Peduli Masyarakat Jawa (GPMJ) Sumatera Utara dan jurnalis

Baca Juga