Opini

Singkirkan Ranjau Dunia Dari Tubuh Anakku

Akuratnews.com - Pada pertengahan bulan desember tahun 2011, Kebumen, Jawa Tengah, sempat digegerkan oleh kasus perbuatan cabul terhadap anak, yang dilakukan oleh seorang penderita eksibision, bernama Ahmad Darobi. Kasus tersebut berawal pada saat AD pulang dari kantornya, yang kemudian saat sampai dirumah, ia melihat anaknya yang berusia sekitar 8 tahun sedang bermain bersama teman-temannya.

Kemudian AD memanggil teman-teman anaknya, untuk masuk kedalam rumah, lalu AD melancarkan aksinya dengan melepas handuk yang dipakainya, dan memamerkan alat kelaminnya secara sengaja, pada anak-anak yang berada dihadapannya, aksi tersebut sering AD lakukan pada anak-anak, hingga membuat resah warga sekitar, yang kemudian membuat salah satu orang tua dari korban akhirnya melaporkan perbuatan AD ke Polres Kebumen, hingga pada 30 Oktober 2012, AD dituntut 3 tahun penjara, karena melanggar pasal 290 KUHP, atas kasus perbuatan cabul pada anak dibawah umur.

Selain itu, kasus pedofilia juga menggemparkan wilayah Padang pada tahun 2018, dengan korbannya yang berusia 12 tahun, korban berinisal “T” tersebut mengalami kasus pencabulan, hal itu dilakukan tersangka berulang kali, dengan rayuan serta ancaman, sehingga korban hanya pasrah, dan tidak berani untuk menceritakan kejadian tersebut kepada orang tuannya.

Korban terus bungkam, hingga pada akhirnya orang tua dari korban mendapati kejanggalan dari anaknya, dengan puncaknya pada bulan maret 2019 lalu, korban mengalami pendarahan hebat sekitar 3 bulan, hingga orang tua korban membawanya untuk berobat, dan ternyata kini korban mengidap kanker rektum stadium 4. Diduga pelakunya adalah tetangga, dari keluarga sang korban. Pelaku hingga kini belum menjalani proses hukum, lantaran kabur bersama anak dan istrinya, setelah mengetahui bahwa dirinya dilaporkan ke polisi oleh keluarga korban.

Kasus tersebut terjadi lantaran kurangnya komunikasi antara anak dengan orang tua, serta minimnya pengetahuan tentang pendidikan seks, yang bahkan masih dianggap sebagai pembahasan yang tabu dan seringkali dihindari oleh masyarakat, terutama bagi masyarakat awam, lantaran menganggap bahwa isu-isu seks, cenderung kearah yang negatiff, padahal pendidikan seks yang sesungguhnya, sangat bermanfaat, dan penting untuk dibahas sedini mungkin. Pendidikan seks dilakukan guna meminimalisir pelecehan seksual terutama pada anak-anak, yang notabene adalah sang peniru handal yang masih minim informasi.

Sebagai orang tua, kita harus bijak dalam menjaga dan melindungi anak kita, waspada serta memberikan ilmu yang cukup kepada anak adalah solusi terbaik, agar anak terhindar dari kejahatan seksual yang marak belakangan ini. Pendidikan seks disini membahas mengernai pengenalan organ tubuh beserta fungsinya, dimulai dari hal yang umum, sampai hal khusus, dengan penggunaan bahasa yang mudah dipahami oleh anak.

Dengan demikian, anak dibimbing agar tidak memiliki presepsi yang salah, perihal pengetahuan tentang seks. Akan sangat berbahaya, ketika anak sudah mulai mengenal lingkungan dan bersosialisasi dengan teman-temannya, tanpa arahan dari orang tua mengenai hal-hal sensitif yang dianggap tabu, maka anak akan merasa malu untuk bertanya kepada orang tuanya dan lebih memilih untuk mencari tahu sendiri, mulai dari bertanya kepada temannya ataupun menggali informasi di internet, sehingga yang didapatkan oleh anak adalah seks yang berkonotasi negatif.

KPAI menemukan kasus kekerasan seksual pada tahun 2019, kasus tersebut terjadi di sekolah dasar, yang terdapat pada 9 lokasi dengan jumlah korban hingga 49 anak, baik laki-laki ataupun perempuan. Kemudian untuk tingkat sekolah menengah pertama, KPAI menemukan kasus kekerasan seksual di 4 lokasi berbeda, dengan jumlah korban  mencapai 24 anak. Sedangkan menurut LPSK, atau Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, mencatat bahwa terjadinya peningkatan permohonan perlindungan kekerasan seksual pada anak, yang melebihi permohonan perlindungan pada tindak pidana lainnya.

LPSK mencatat bahwa, pada tahun 2019 ini, terdapat setidaknya 4 kasus permohonan kasus kekerasan seksual pada anak, setiap minggunya. Sehingga LPSK mendeteksi adanya peningkatan yang signifikan, terhadap kasus kekerasan seksual pada anak, sejak tahun 2016 terdapat 25 kasus kekerasan seksual pada anak, kemudian pada tahun 2017 naik menjadi 81 kasus, dan pada puncaknya tahun 2018 terdapat 206 kasus kekerasan seksual pada anak, kemudian untuk tahun 2019 hingga bulan juni lalu, tercatat bahwa terdapat sekitar 78 permohonan perlindungan kasus kekerasan seksual pada anak.

Pendidikan seks merupakan salah satu bentuk kepedulian orang tua terhadap masa depan anaknya, melihat banyaknya kasus kekesaran seksual yang terjadi pada anak-anak terutama di Indonesia. Namun seringkali orang tua bersikap apatis mengenai hal ini, banyak orang tua, yang enggan melakukan diskusi kecil dengan sang anak, lantaran kesibukkannya dalam mengais materi, sebagian dari mereka juga menganggap, bahwa pendidikan seks akan didapatkan oleh anak, seiring dengan berjalannya waktu, hingga sang anak menginjak usia dewasa, dan kemudian mengerti sendiri.

Banyak pula orang tua, yang menyerahkan persoalan ini kepada pihak sekolah, dan menganggap bahwa di sekolah sang anak akan mendapatkan banyak ilmu tentang pendidikan seks. Pada nyatanya, kasus kekerasan seksual juga banyak terjadi di sekolah, kasus tersebut dilakukan oleh pegawai, staf lainnya atau bahkan dilakukan oleh sang guru. Untuk itu, sebagai orang tua, kita harus menjaga dan melindungi buah hati kita, agar tidak terperangkap pada jalan yang salah.

Sekolah memang sering mengadakan sosialisasi tentang pendidikan seks, di mata pelajaran biologi pun di jelaskan dengan gamblang, mengenai pentingnya pendidikan seks, namun, hal tersebut masih belum cukup bagi anak, lantaran guru pertama bagi anak, adalah orang tuanya, dan sekolah pertama bagi anak adalah keluarganya, jika orang tua tidak mau memberikan informasi, mengenai pendidikan seks sejak dini, atau bahkan bersikap apatis, mengenai hal tersebut, maka sang anak akan merasa malu, jika melakukan kesalahan, dan bahkan enggan tunk bercerita terhadap orang tuanya.

Begitu pula dengan maraknya penderita eksibisionisme, yang meningkat pada setiap tahunnya. Dilansir dari digilib.uinsby.ac.id, mengemukakanan bahwa eksibisionisme, merupakan kelainan jiwa, yang ditandai dengan kecenderungan, untuk memperlihatkan hal-hal yang tidak senonoh. Eksibisionis merupakan dorongan fantasi seksual, yang mendesak serta berulang-ulang, dengan cara memamerkan kemaluannya, kepada orang lain yang tidak dikenal, bahkan anak-anak juga kerap menjadi korban, gangguan tersebut umumnya terjadi pada usia remaja dan berlanjut hingga dewasa, baik pada laki-laki ataupun perempuan.

Selain menjadi incaran bagi penderita eksibisionisme, anak-anak juga menjadi sasaran utama, bagi penderita gangguan pedofilia. Menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI), pedofilia merupakan kelainan seksual yang menjadikan anak-anak sebagai sasaran pelampasan seksual bagi penderitanya, pedofilia juga membuat penderitanya untuk berfantasi bahkan penderita juga terdorong untuk menyalurkan nafsu seksualnya kepada korbannya, yang notabene adalah anak dengan usia 13 tahun kebawah, baik laki-laki ataupun perempuan,  dan pada umumnya penderita pedofilia adalah seorang pria.

Dengan kecemasan tersebut, seharusnya orang tua lebih waspada, serta jadilah sumber informasi utama, yang akurat bagi sang anak. Jika anak sudah nyaman dengan orang tuanya, maka ia akan menceritakan semua hal yang dia alami kepada orang tuanya. Dengan demikian, orang tua dapat memonitori serta mengarahkan anak kepada hal yang benar, hal tersebut akan sulit jika sang anak tidak nyaman dan lebih memilih bercerita kepada teman sebayanya yang sama-sama minim informasi.

Anak akan mencari dan mengali informasi dari sumber yang mereka bisa eksplor, seperti misalnya adalah internet, seperti yang kita ketahui, bahwa tidak semua informasi yang bersumber dari internet adalah informasi yang baik, melainkan banyak pula hal negatif berbahaya yang bisa diakses melalui internet. Untuk itu, sebagai orang tua harus mampu menjadi teman, sahabat, dan temapat bercerta bagi sang anak, tanpa mengurangi sedikitpun figurnya sebagai orang tua.

Solusi pendidikan seks yang baik untuk anak menurut Ilmawati dalam (Listiana. 2012) meyatakan beberapa pokok pendidikan seks yang dapat diimplementasikan yakni:

Menanamkan sikap rasa malu pada diri anak sedini mungkin, yakni membiasakan anak agar menutup aurat terutama menutup bagian sensitifnya

Menanamkan jiwa feminitas paada anak perempuan serta menanamkan jiwa maskulinitas kepada anak laki-laki, baik secara fisik ataupun secara psikis.

Memisahkan kamar tidur guna menanamkan kesadaran pada anak tentang eksistensi dari dirinya.

Menerapkan hidup bersih serta mendidik anak untuk menjaga kebersihan alat kelaminnya

Mendidik agar anak selalu menjaga pandangan matanya.

Mempererat hubungan komunikasi dengana anak

Baca Juga