Sidang Sengketa Pilpres 2019

Yusril: Kajian Jaswar Koto di Sidang MK Bisa Batalkan ‘Kemenangan Jokowi’?

Jaswar Koto saat memberikan kesaksian dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi. (Foto istimewa).

Jakarta, Akuratnews.com - Sidang terbuka sengketa pilpres 2019 di Mahkamah Kontitusi (MK) menyuguhkan fakta sidang yang menarik, terutama soal puluhan juta pemilih siluman atau ghost voters dan penggelembungan suara yang diduga memenangkan pasangan Calon Presiden nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf Amin.

Secara mengejutkan, Saksi Ahli dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Jaswar Koto memberikan kesaksian telah menemukan 27 juta pemilih siluman atau ghost voters selama dirinya menganalisa 110 juta populasi.

Menurut Jaswar, awalnya dia menemukan 22 juta ghost voters setelah menganalisa 89 juta populasi pemilih. Ghost Voters bertambah setelah dirinya menambah populasi yang dianalisanya. Temuan itu menjadi bahasan menarik sepanjang sidang MK.

Bambang Widjojanto, ketua tim kuasa hukum Prabowo-Sandi dalam persidangan mendalami temuan Jaswar dengan pertanyaan apakah penelitian di 21 provinsi dan sekian banyak Kabupaten ditemukan angka 27 juta ghost voters? Jaswar menjawab, "Sekarang yang 27 juta itu dari 110 juta populasi yang kami analisa,"

Data yang dianalisanya itu berasal dari data yang dipublikasikan oleh KPU. Dia kemudian mempresentasikan beberapa hasil analisanya. Menurutnya, Pemilih siluman atau ghost voters yang dimungkinkan bisa bertambah ini, seperti adanya pemilih di bawah umur, NIK ganda dan kode kecamatan yang juga ganda.

"Ini bisa dilihat dari kode NIK pemilih. Informasi mengenai tanggal, bulan, dan kelahiran pemilih bisa dilihat dari angka itu," ujar Jaswar dengan memberikan contoh ada pemilih dalam DPT KPU yang masih berumur 1 tahun. "Ini yang saya sebut pemilih dalam kategori ghost voters," ungkap Jaswar.

Dia juga mengungkap adanya pola penggelembungan suara untuk Paslon 01 dan penurunan suara bagi Paslon 02. Menurutnya, pola kesalahan hitung pada Situng mengacu pada penggelembungan suara 01 dan pengurangan pada (suara) 02.

Keterangan inilah yang menguatkan Kubu 02 untuk dapat mendiskualifikasi Kubu 01 dalam Pilpres, atau setidaknya diputus pemilihan ulang, semua bergantung pada putusan majelis hakim MK.

Bahkan Ketua Tim Kuasa Hukum Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf, Yusril Ihza Mahendra mengakui hasil kajian dari ahli IT kubu Prabowo-Sandi bisa saja membatalkan hasil Pilpres yang memenangkan pasangan Jokowi-Maruf. Yusril menyampaikan hal itu dalam persidangan yang digelar Rabu kemarin (19/6/2019).

"Apa yang Bapak tulis dalam laporan yang dipresentasikan itu, ini merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Dampak dari hasil kajian Bapak bisa membatalkan keputusan KPU dan bisa menentukan Presiden RI yang penduduknya 250 juta ini, siapa yang akan jadi presiden dan siapa yang tidak," kata Yusril saat sidang, seperti dikutip situs nasional. Yusril juga mengakui bahwa jaswar Koto punya kompetensi audit data forensik.

Dalam kajian yang dilakukan, Jaswar Koto menyebut adanya penggelembungan data 22 juta suara untuk kemenangan paslon 01. Kesaksian tersebut pula yang digunakan dalam petitum Prabowo-Sandi. Yusril sebagai Kusa Hukum 01 menganggap keterangan Jaswar berbahaya bagi kliennya. Namun begitu, Yusril optimis pihaknya mampu merontokan dalil-dalil yang disampaikan Jaswar dalam persidangan.

Kini sidang terbuka pemeriksaan saksi-saksi telah usai. Selanjutnya, Majelis Hakim di sidang MK akan memeriksa semua data dan dokumen penunjang kesaksian termasuk data tambahan yang diajukan pihak pemohon dan termohon. Rencananya, sidang terbuka akan kembali digelar pada sidang putusan yang rencananya digelar pada tanggal 28 Juni 2019.

Penulis: Hugeng Widodo
Editor: Redaksi

Baca Juga