Akibat Musim Kemarau, Sejumlah Petani di Indramayu Alih Profesi Menjadi Petambak

Indramayu, Akuratnews.com - Sejumlah petani di Kabupaten Indramayu alih profesi akibat sawah garapan mereka dilanda kekeringan. Di Kecamatan Kandanghaur, kemarau kerap membuat lahan pertanian kekurangan pasokan air.

Kondisi itu tak lepas dari letak kecamatan ini yang berada di ujung layanan irigasi dari Waduk Jatiluhur dan Bendung Rentang.

Kekeringan akhirnya membuat mereka mengalami gagal panen (puso) hingga merugi. Sebagian petani pun diketahui terpaksa alih profesi, salah satunya mengubah lahan menjadi areal tambak.

"Sudah beberapa tahun ini saya ubah sawah jadi tambak ikan. Sebelumnya gurame saja, sekarang ikan lele juga saya budidayakan," ungkap Amin, salah seorang petani di Kandanghaur.

Sejauh pengalamannya beralih profesi, menjadi petambak dinilai lebih minim resiko ketimbang menanam padi. Dia menyebutkan, dibutuhkan setidaknya Rp11 juta-Rp13 juta sebagai modal budidaya pada sepetak tambak gurame.

Biasanya, pemeliharaan ikan membutuhkan waktu sekitar sepuluh bulan. Selama itu, dirinya bisa menghasilkan sekitar satu ton ikan dengan penghasilan lebih dari Rp25 juta.

"Harga satu ton gurame sekarang Rp25 juta. Saya sekarang panen sudah naik jadi Rp1,7 ton," cetusnya antusias.

Dengan pendapatan yang dianggapnya lebih besar dari bertani, Amin pun memutuskan menekuni budidaya tambak ikan. Proses pemeliharaannya pun dinilai lebih mudah karena hanya memberi pakan ikan sesuai kebutuhan dan waktu yang tepat.

Dia mengaku, hanya memerlukan tenaga tambahan saat panen saja. Saat inilah, dia biasanya mempekerjakan orang untuk membantunya, yang secara langsung telah menggerakkan perekonomian warga sekitar.

Selain gurame, dirinya juga membudidayakan ikan lele dengan potensi pasar yang cukup luas. Amin sendiri biasanya memanen sedikitnya tiga ton per petak tambak.

"Harga jual lele sekarang sekitar Rp18.000/kg. Keuntungannya lumayan dan lagi tidak perku banyak tenaga maupun biaya untuk memeliharanya," tambahnya.

Sementara, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kandanghaur, Waryono menyebutkan, alih profesi petani menjadi petambak di antaranya banyak dilakoni para petani di Desa Girang dan Desa Karanganyar.

"Selain petambak, banyak juga petani alih diri ke profesi lain karena kekeringan setiap kemarau," terangnya.

Kekeringan tahun ini sendiri disebutnya sebagai yang terparah. Sejauh ini, sedikitnya 2.500 ha lahan padi di Kecamatan Kandanghaur puso. Ketiadaan pasokan air membuat petani merugi karena tak bisa menikmati hasil, sementara modal sudah dikeluarkan untuk menanam.

Terlebih, kebanyakan petani di Kandanghaur bulanlah peserta asuransi pertanian. Pihaknya pun berharap bantuan pemerintah demi meringankan beban para petani yang lahannya kekeringan.

Penulis: Eka Susanto
Editor: Redaksi

Baca Juga