Pertumbuhan Aset Keuangan Swasta Indonesia Diatas 10%

Pertumbuhan aset keuangan swasta di Indonesia melampui pertumbuhan global. (Lukman Hqeem/Foto istimewa).
Pertumbuhan aset keuangan swasta di Indonesia melampui pertumbuhan global. (Lukman Hqeem/Foto istimewa).

Akuratnews.com - Kajian terbaru dari Allianz tentang Kesejahteraan Global menunjukkan terjadinya pertumbuhan aset keuangan swasta di Indonesia mencapai 10,6%. Angka ini jauh diatas rata-rata pertumbuhan aset keuangan global yang hanya mencapai 7,7%. Harus diakui bahwa globalisasi bisa mengurangi tingkat kesenjangan kesejahteraan di lingkup global, namun dalam lingkup domestic justru menyebabkan peningkatan.

Menurut Michael Heise, Kepala Ekonom Allianz, tahun 2017 merupakan tahun yang luar biasa dan hampir sempurna bagi para investor, meskipun ketegangan politik meningkat. Setelah terjadinya krisis keuangan, pemulihan ekonomi mencapai puncaknya dengan kemajuan yang sinkron di seluruh dunia serta meningkatnya kinerja pasar keuangan, khususnya pasar modal. Hasilnya, aset finansial naik secara signifikan sebesar 7,7% dan aset finansial global meningkat menjadi EUR 168 triliun (bruto).

Ditambahkan olehnya bahwa tahun lalu adalah tahun yang sangat baik bagi para penabung. “Tahun lalu memang sebagus itu dan era pasca krisis keuangan sudah berakhir untuk selamanya. Masa-masa ketika kebijakan moneter diciptakan untuk menjaga dan meningkatkan kondisi yang stabil di pasar keuangan, sudah terlewati. Namun sekarang, tanda-tandanya mulai mengkhawatirkan: mulai dari kenaikan suku bunga, konflik perdagangan hingga situasi politik yang semakin populis menimbulkan ketegangan dan gejolak tersendiri. Bulan pertama pada tahun ini sudah terasa pahit.”

Di Indonesia sendiri terjadi peningkatan pertumbuhan aset keuangan. Pada 2017, pertumbuhan aset keuangan sektor swasta di Indonesia meningkat sebesar 10,9%, dimana pada tahun sebelumnya meningkat sebesar 9,9%.

Penggerak pertumbuhan adalah sekuritas (28,2%), yang mencerminkan perkembangan positif pasar saham Indonesia, diikuti oleh asuransi dan dana pensiun (+23,5%). Namun demikian, deposito tetap menjadi kelas aset yang paling diminati, dengan persentase sebesar 67,3%. Hal ini didasari oleh fakta bahwa sebagian besar penduduk masih belum memiliki atau mempunyai akses yang terbatas kepada jenis layanan dan produk keuangan lain yang lebih luas.

“Meskipun pertumbuhan aset rumah tangga meningkat, namun penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah. Allianz Indonesia menyediakan solusi asuransi untuk semua segmen masyarakat. Kami berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam meningkatkan literasi keuangan untuk melindungi lebih banyak orang,” ungkap Joos Louwerier, Country Manager & Direktur Utama Allianz Life Indonesia

Pertumbuhan kredit meningkat 9,0% pada tahun 2017, naik dari tahun sebelumnya sebesar 8,3%. Sementara posisi rasio utang terhadap PDB tetap stabil pada angka 16,2%, dan menjadi salah satu yang terendah diantara negara-negara Asia lain yang dianalisa.

Aset finansial per kapita (net) berada di posisi EUR 650 menempatkan Indonesia di peringkat ke-52 dalam daftar negara terkaya di seluruh dunia (aset finansial per kapita, lihat tabel di bawah), satu peringkat di atas Ukraina. Di posisi atas, Swiss kembali merebut posisi teratas dari Amerika Serikat.

Indikator Baru Untuk Distribusi Kekayaan Nasional

Untuk mendapatkan peta pemerataan kesejahteraan nasional dalam konteks internasional, Allianz memperkenalkan indikator baru dalam laporan ini, bernama Allianz Wealth Equity Indicator (AWEI).

Beberapa hasilnya mengejutkan. Negara dengan pemerataan kesejahteraan yang relatif terus berubah selalu ditempati oleh Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan Inggris, namun kini juga diisi oleh Denmark, Swedia dan Jerman. Di Skandinavia, utamanya disebabkan oleh tingkat utang yang tinggi di sebagian besar penduduk; di Jerman, reunifikasi tertunda dan kekurangan umum pada skema dana pensiun berperan penting.

Di Indonesia sendiri, kesejahteraan masih sangat terkonsentrasi pada kelompok tertentu, yang mencerminkan perkembangan yang relatif lambat dan akses yang tidak merata ke layanan keuangan. Di sisi lain, banyak negara yang memiliki pemerataan kesejahteraan relatif seimbang termasuk di dalamnya sejumlah negara Eropa timur dan barat, dan beberapa di antaranya adalah negara yang mengalami krisis euro seperti Italia, Spanyol dan Yunani.

Bahkan, jika beberapa tahun terakhir krisis dan penghematan negara telah menyebabkan kesenjangan yang lebih besar di Spanyol dan Yunani, pun dua negara ini masih memiliki landasan kuat jika harus mengalami krisis kembali, karena aset yang dimiliki telah terdistribusi secara luas - paling tidak untuk aset real estate.

Dengan indikator AWEI tersebut, menunjukkan bahwa kita harus waspada terhadap penarikan kesimpulan yang terburu-buru atau umum, kata Michael Heise. Berbeda dengan Amerika Serikat, hampir tidak ada negara yang memiliki pemerataan kesejahteraan karena sudah sangat menyimpang dan terus semakin buruk. Di sebagian besar negara, kondisinya menjadi area yang tidak jelas atau  terlihat abu-abu, pungkasnya. (LH)

Penulis:

Baca Juga