oleh

Hasil Pemilu Sela AS Pengaruhi Kinerja Pasar Indonesia

Jakarta, Akuratnews.com – Pasar uang Indonesia sangat cerah, Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Rupiah sama-sama ditutup menguat dalam perdagangan hari Rabu (07/11). Mata uang Garuda naik 1,5% sementara IHSG naik 0,27%. Bagi Rupiah ini merupakan posisi terkuatnya sejak 22 Agustus.

Faktor kenaikan ini berasal dari dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri, investor sudah berpersepsi bahwa cadangan devisa akan membaik pada Oktober 2018.  Sementara dari luar negeri, sentimen utama yang mewarnai pasar adalah pemilihan sela di Amerika Serikat.

Investor percaya bahwa cadangan devisa akan membaik pada Oktober 2018. Oleh sebab itu, Bank Indonesia dipandang tidak perlu lagi menggunakan cadangan devisa secara agresif guna menjaga nilai tukar Rupiah. Disatu sisi, Rupiah yang stabil akan memberikan kepercayaan investor untuk kembali mengkoleksi mata uang Garuda.

Setelah penutupan perdagangan, Bank Indonesia mengumumkan cadangan devisa nasional sampai akhir bulan lalu sebesar US$ 115,16 miliar. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yaitu US$ 114,85 miliar. Kenaikan ini adalah yang pertama kalinya secara bulanan ditahun ini.

Sementara dari luar negeri, hasil pemilu sela di AS menghasilan kemenangan Partai Demokrat di dewan perwakilan, sementara Partai Republik masih mengontrol Senat. Kondisi yang saling mengunci ini dikhawatirkan akan mengubah arah kebijakan pemerintahan Trump. Partai Demokrat sebagai oposisi memiliki kekuatan untuk menghadang kebijakan presiden Trump. Bisa jadi kondisi politik AS ke depan akan penuh kegaduhan. Kebijakan-kebijakan Trump kemungkinan akan terjegal di House of Representative. Bahkan bisa jadi akan ada penyelidikan terhadap berbagai isu yang menerpa Trump, seperti peran Rusia dalam pemilihan presiden AS 2016, pembayaran pajak, dan sebagainya.

Ini semua akan menciptakan musuh utama bagi investor; ketidakpastian. Melihat musuh besar di depan mata, aliran modal pun ‘terbang’ meninggalkan AS dan hinggap ke berbagai penjuru. Asia menjadi salah satu tujuannya, termasuk Indonesia.

Dalam perdagangan hari ini, investor patut mencermati sejumlah sentimen. Pertama tentu adalah lonjakan di Wall Street. Semoga pencapaian Wall Street bisa ditiru oleh bursa saham Asia, termasuk Indonesia.

Kedua adalah nilai tukar dolar AS, yang masih tertekan. Indek Dolar AS masih melemah. Hasil pemilihan sela ternyata menjadi sentimen negatif bagi dolar AS. Pasalnya dengan kehadiran kubu oposisi, akan semakin sulit bagi Trump untuk menggolkan kebijakan stimulus berikutnya.

Jika pelemahan dolar AS berlanjut, maka rupiah pun berpeluang untuk meneruskan laju positif yang dicapai dalam 2 hari terakhir. Namun dolar AS memiliki peluang naik dengan hasil pertemuan Komisi Pasar Bebas yang akan diumumkan pada Kamis waktu setempat. Pasar memperkirakan The Fed masih akan menahan suku bunga acuan di 2-2,25%.

Pelaku pasar lebih berusaha mencari petunjuk soal arah kebijakan moneter AS ke depan. Sejauh mana kenaikan suku bunga akan dilakukan pada Desember nanti, bila sinyalnya kuat, maka dolar AS bisa bangkit dari keterpurukan.

Sentimen ketiga adalah harga minyak, yang masih saja terkoreksi, dimana saat ini harga brent turun 0,14% sementara light sweet berkurang 0,92%. Koreksi harga minyak bisa menjadi sentimen positif bagi rupiah, karena bisa mengurangi beban di neraca migas.

Sentimen keempat, kali ini dari dalam negeri, adalah data cadangan devisa yang positif. Ekspektasi terhadap data ini sudah menjadi salah satu faktor pendorong pasar keuangan Indonesia. Sekarang datanya sudah dirilis dan sesuai dengan ekspektasi. Rupiah akan semakin memiliki pijakan untuk menguat, karena tambahan kekuatan dari cadangan devisa.

Sentimen kelima, masih dari dalam negeri, investor harus mewaspadai risiko ambil untung alias profit taking. Sejak awal November, IHSG sudah menguat signifikan 1,86% sementara rupiah terapresiasi tajam 3,64% di hadapan dolar AS dan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun amblas 36,4 bps. Ada kemungkinan sebagian investor akan melepas aset-aset berbasis rupiah jadi waspadalah. (LH)

Komentar

News Feed