Opini

Mengenal Batin Indonesia Melalui 35 Film Puisi Esai, dari Aceh Hingga Papua

Opini, Akuratnews.com - Tengah malam di satu hari di ujung bulan Oktober 2018. Meja saya penuh dengan draft 34 buku dari 34 provinsi. Setiap buku berisi lima kisah drama manusia: tentang jeritan, harapan, persahabatan, perjuangan, konflik, penghianatan. Semua kisah bersandar pada true story, kisah yang sebenarnya. Keaneka ragaman budaya Indonesia, keunikan budaya lokal, sangat terasa.

Saya justru teringat makalah di Jurnal The Social Studies, yang ditulis oleh Michael James dan James Zarrillo, tahun 1989. Makalah ini mengupas bagaimana cara memahami sejarah Amerika Serikat pada masa perang sipil? Apa yang terjadi pada kehidupan keluarga di sana, dunia anak-anak,juga kehidupan agama, dan percakapan para orang tua.

Makalah itu tidak menganjurkan pembaca untuk mempelajarinya dari buku sejarah. Ia justru merekomendasikan karya sastra karangan Laura Ingalls Wilder.

Novel ini kemudian difilmkan dalam serial TV berjudul Little House on The Praire. Begitu panjang kisah yang dituturkan. Seri film ini ditangan produser Michael London, dan bintang Melissa Gilber, ditayangkan seminggu sekali, dan memakan waktu 10 tahun (1974-1984).

Di masa SMA, dan masa awal mahasiswa di ujung tahun 1980an, saya sempat pula menonton. Di masa itu, TVRI menjadi satu satunya TV yang ada. Di rumah saya, TV masih hitam putih. Namun saya acapkali tergugah oleh serial film TV itu.

Menarik alasan yang dinyatakan makalah itu mengapa justru karya sastra yang diajukan untuk memahami sejarah. Tulis Michael James, buku sejarah memberi informasi pada kita soal nama tokoh, peristiwa, nama tempat dan waktu.

Tapi drama manusia di dalam kisah sejarah itu lebih bisa diungkap melalui sastra.

Malam itu saya mengamininya. Tamat sudah saya membaca 34 buku, 176 puisi esai, dari Aceh hingga Papua. Tak henti saya berdecak kagum.

Betapa kaya keaneka ragaman budaya Indonesia. Betapa luas kemungkinan kisah drama yang terjadi. Betapa banyak yang baru saya tahu tentang Indonesia.

Saat itu juga saya niatkan. Aneka puisi esai ini harus menjadi film, sebagaimana film TV Little House on The Praire. Saya bayangkan datang satu masa, bahkan seorang sejarahwan akan berkata. Ujar sejarahwan itu, jika anda ingin memahami kekayaan budaya Indonesia, saya merekomendasikan menonton serial 35 Film Puisi Esai, dari Aceh hingga Papua.

Kekayaan dalam 176 puisi esai itu masih mengendap di batin saya. Di Aceh misalnya, dua puisi esai karya D Kemalawati dan Nazar Shah Alam. Keduanya berkisah tentang drama yang tersisa setelah Gerakan Aceh Merdeka berdamai.

Kemala mengisahkan seorang pejuang GAM yang masih dipenjara. Ketika perdamaian tiba, betapa perubahan nasib hanya terjadi pada sebagian pejuang GAM. Ia sendiri masih mendekam di penjara. Ia terpecah dan terasing dari sesama pejuang GAM lain, yang sudah berubah nasibnya.

Nazar berkisah hal lain. Seorang simpatisan GAM begitu banyak membantu para pejuang GAM. Ia berkorban banyak hal. Namun ketika datang era perdamaian, sebagian pejuang GAM itu sudah tiba pada kekuasaan. Namun pejuang GAM sudah berkuasa tiada memberi perhatian padanya. Hidupnya bahkan terlunta-lunta.

Linny Oktavianny dari Sumatra Selatan mengkisahkan keunikan lain. Di Sumatra Selatan, khususnya Kayu Agung, hidup tradisi menjadi duta. Seorang lelaki dewasa ke luar dari kampung halaman melancong ke luar negeri seolah menjadi duta komunitas.

Pulang dari luar negeri, ia mendadak kaya. Menyumbang banyak bagi kampung halaman. Semua tahu, sang duta itu di luar negeri menjadi kriminal: merampok atau mencopet. Tapi ia tetap dihormati sejauh pulang dan membangun kampung halaman.

Di Jakarta, Elza Peldi Taher, bercerita tentang duka keluarga pendatang: Manusia Gerobak. Karena tak ada biaya, seorang pemulung ditolak rumah sakit. Anaknya yang bocah tak ditangani. Akhirnya sang anak mati.

Manusia gerobak ini tak kuat pula membayar harga tanah untuk memakamkan anak. Dengan penuh duka, ia gendong mayat anaknya yang sudah wafat. Ia naik kereta api pulang kampung. Tanah di kampung bisa ia cari.

Jojo Rahardjo berkisah hal lain lain di wilayah Puncak Jawa Barat. Tersembunyi namun luas diketahui terjadi kultur kawin kontrak. Umumnya pendatang luar negeri memerlukan istri sementara saja, selama ia tinggal di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, kadang sang Ayah sendiri yang menyerahkan anak gadisnya untuk kawin kontrak itu.

Di Jogjakarta, Isti Nugroho, mengangkat api dalam sekam yang berlangsung di kerajaan Jogjakarta. Mungkinkah yang melanjutkan Hamangkubuwobo ke sepuluh nanti adalah putrinya, tambayun? Tapi sang putri terhambat Kultur patriakal.

Sungguhpun Jogja sudah modern, namun untuk urusan menjadi raja, masih terjadi diskriminasi pada wanita. Semaju dan sehebat apapun wanita itu, untuk menjadi raja Jogja, masih belum terbayang.

Listyaning Aryanti mengangkat kisah gunung Kidul. Mengapa angka bunuh diri sangat tinggi di sana? Isu bunuh diri dalam masyarakat tradisional di sana dikaitkan dengan jatuhnya cahaya dari langit ke rumah seseorang. Namun di era modern, mulai dipelajari tingginya angka bunuh diri di Gunung Kidul dengan problema sosial ekonomi.

Bali tak kekurangan drama yang terasa lokalitasnya. Ni Luh Putu menceritakan krama Banjar dan Adat istiadatnya. Seorang wanita yang begitu menanjak karir di kantor modern, ketika pulang ke rumah, kembali harus menjadi wanita adat. Lelaki tetap yang diutamakan.

Dari Bali menyebarang lautan, Sampai di Kalimantan. Mohammad Thobroni menceritakan riwayat dongeng Sembakung di wilayah Tidung, Kalimantan Utara. Ini kisah dongeng yang banyak mengajarkan kearifan hidup. Namun zaman modern membuat dongeng sembakung semakin jarang terdengar. Kisah dongeng itupun kini lebih banyak diwarnai pesan kegetiran dan kepahitan hidup.

Sulawesi tak kalah kaya dengan keunikan budaya. Wa Ode Nur Iman menceritakan kisah Mesjid Muna di Sulawesi Tenggara. Perubahan zaman dan masyarakat terekam melalui mesjid itu. Dahulu kala, mesjid itu pusat hidup masyarakat. Kini mesjid itu sepi tak terurus. Pusat kehidupan menjauh dari mesjid.

Maluku menyimpan masalah lain. Rizky Umahuk dan Rudy Rahabeat masing masing mengangkat kembali jejak konflik primordial. Ribuan terbunuh di sana baik dari kalangan Muslim ataupun Kristen.

Rizky Umuhuk mencatat bagaimana kisah rakyat Nenek Luhu kini dihidupkan kembali. Ia kisah tentang seorang nenek yang menjaga harmoni. Rudy Rahabeat juga mencatat kultur
Pelo Gedong kembali dipopulerkan. Mengobati konflik, menyambungkan kembali harmoni, betapa kisah rakyat dan kearifan lokal yang relevan, yang sudah mengakar hidup lagi.

Tanah Papua juga punya keunikan. Ida Riyanti menceritakan ratapan dari belantara Korowai. Di sana hidup suku yang terasing. Seorang Ayah memiliki kesadaran baru. Ia ingin mengobati anaknya yang sakit dengan ilmu kedokteran.

Tapi. apa daya. Ia harus berjalan kaki 10 jam, melewati belantara. Itu jarak tempuh klinik terdekat.

FX Purnamo mengkisahkan tiga suku di Sentani, Papua Barat. Tiga suku yang awalnya harmoni, menjadi bara api ketika ditemukan mineral yang mahal: Nikel. Konflik antar sukupun terjadi. Di antara konflik itu, terselip pula kisah cinta.

Yang saya ulas di atas hanya beberapa kisah saja dari 176 puisi esai. Berbeda dengan puisi biasa, puisi esai ini puisi yang sangat panjang. Total satu puisi berisi minimal 2500 kata.

Terdapat pula catatan kaki. Di dalam catatan kaki itu kita temukan sumber dari informasi yang menjadi tulang punggung puisi. Pada. dasarnya kisah di dalam puisi esai itu true story yang kemudian difiksikan.

Langkah selanjutnya sayapun bermimpi. Kisah dan suasana batin masyarakat Amerika dapat dirasakan orang banyak melalui serial TV: Little House on The Praire. Film membuat kisah ini lebih banyak ditonton, lebih luas coveragenya. Drama di dalam puisi esai ketika diterjemahkan ke dalam film juga dapat dibuat lebih menyentuh.

Di situlah keunggulan film yang berdasarkan kisah sebenarnya. Kita tetap tersentuh oleh drama yang tercipta. Namun kita juga belajar sepotong sejarah. Ini semacam “beli satu dapat dua.”

Tekadpun dibuat. Minimal 34 puisi esai dari 34 provinsi itu haris difilmkan. Satu lagi tambahannya: satu puisi esai kisah nasional.

Jelas ini kerja kolosal membuat 35 film sekaligus. Ia tak hanya membutuhkan begitu banyak penulis skenario, sutradara dan bintang. Tapi ia memerlukan pula sebuah karakter yang menjadi benang merah 35 film itu.

Lima hal saya gariskan yang harus ada dalam setiap film Puisi Esai.

Pertama, ia harus mengangkat sisi kearifan lokal. Hanya itu cara untuk membuat kita mengenal budaya Indonesia yang lain. Ini serial film untuk lebih mengenal budaya Indonesia. Ini drama untuk memahami keragaman Indonesia.

Kedua, namun agar ia menyentuh, harus ada drama di dalamnya. Harus pula ada sempilan kisah cinta. Film ini pertama tama adalah karya seni, bukan propaganda kebudayaan dari departemen penerangan seperti di era Orde Baru. Setiap episode harus menampilkan sesuatu yang inspiring.

Ketiga, teknologi sudah sedemikian maju. Walau ini film seri TV, ia harus berasa film layar lebar. Durasi sekitar 70 menit. Kamera atau editing yang digunakan harus yang kelasnya bercita rasa film layar lebar.

Keempat, tapi biaya produksi harus ditekan seefisen mungkin. Walau ini kisah lokal di 34 provinsi, tapi 90 persen shooting dilakukan dalam satu studio besar saja. Lalu 10 persen sisa setiap film untuk aksen perlu shooting seminimal mungkin di lokasi masing masing provinsi.

Teknologi kemasan sudah sedemikian maju. Membuat film bagus dan mahal, semua pihak bisa melakukannya. Tapi membuat film bagus dan murah, itu adalah kerja kreatif. Itu adalah inovasi.

kelima, harus selalu ada teks bahasa Inggris. Saya membayangkan, 35 film ini disamping hiburan, juga memiliki nilai edukasi. Di samping diputar di TV nasional, mungkin juga diputar di TV manca negara. Apalagi dunia barat kini sedang kegandrungan eksotisme dan local wisdom budaya timur.

Untuk menggarap 35 Film Nasional sekaligus dan harus selesai seluruhnya kurang dari setahun, setidaknya membutuhkan mungkin 5-7 sutradara, 5-7 penukis naskah. Perlu dibentuk 5-7 team yang bertanggung jawab atas 5-7 film.

Belum saya tahu akanlah proyek kolosal itu berhasil. Namun memimpikannya saja, saya sudah terbang ke langit.

Di sela-sela kesibukan pemilu presiden 2019, di waktu senggang saya sering tercenung sendiri. Tak saya duga sejauh itu puisi esai sudah berevolusi.

Di tahun 2011, delapan tahun lalu, saya pertama kali bereksperimen menuliskan puisi. Namun puisi yang ada tak memuaskan saya. Yang saya butuh, puisi yang panjang, berbabak, agar cukup mengkisahkan sebuah drama.

Tapi dalam puisi itu saya ingin pula ada ruang untuk menceritakan data dan fakta sejarah. Yang ingin saya tuliskan dalam puisi adalah kisah sebenarnya. Namun untuk efek dramatisasi, kisah sebenarnya itu difiksikan.

Sayapun menemukan fasilitas catatan kaki. Simsalabim!! Abakadabra!! Saya gabung fakfa dan fiksi.

Jika dalam novel ada genre historical fiction, puisi esai ini Fictional True Story. Historical Fiction itu kisah sejarah, peristiwa masa silam setidaknya lima puluh tahun lalu. Sementara saya justru ingin merespon kisah sosial yang sedang aktual.

Saya membuatkan kredo, konsep dan kisi kisi. Apa itu puisi esai dan apa yang bukan puisi esai? Prinsip dasar puisi esai saya susun.

Dan saya buatkan buku pertama puisi esai: Atas Nama Cinta (2012). Ini lima kisah yang sebenarnya, true story, yang saya puisi esaikan. Yang menonjol dalam buku Atas Nama Cinta adalah puisi esai Sapu Tangan Fang Yin.

Itu kisah gadis muda Tionghoa di Jakarta. Ia tumbuh sebagaimana gadis muda kota. Suatu ketika huru hara terjadi di Jakarta tahun 1998. Proses reformasi diwarnai gerakan kriminal dan perkosaaan. Hanya karena ia gadis Tionghoa, Fang Yin diperkosa massal.

Sebagaimana banyak terjadi pada warga Indonesia dari Tionghoa, Fang Yin pun pergi meninggalkan Indonesia. Ia luka. Ia marah. Setiap mendengar kata Indonesia, ia muak.

Hingga suatu ketika ia melihat Indonesia berubah. Sudah diputar program TV berbahasa Cina. Agama Konghucu dijadikan agama resmi. Barongsai dipertontonkan di muka publik.

Ia pun akhirnya kembali dan ingin mati di Indonesia. Bagaimanapun, Indonesia tanah airnya sendiri.

Puisi esai Sapu Tangan Fang Yin penuh dengan catatan kaki selayaknya makalah ilmiah. Ketika menjelaskan warga Tionghoa acapkali menjadi sasaran amuk massa, catatan kaki tersedia. Dalam cataan kaki itu, data sejarah kisah amuk masa sejak abad 18 pun tersaji.

Puisi esai menjadi kontroversial karena klaim yang besar. Ini genre baru sastra. Apalagi Sapardi Djoko Damono memberi pengantar.

Ujar Sapardi, Ia belum pernah melihat digunakannya catatan kali dalam puisi sebagaimana dalam puisi esai Denny JA. Lebih kuat lagi, Sapardi menyatakan Denny JA menawarkan cara menulis puisi yang berbeda.

Tak terasa tujuh tahun sudah berlalu. Sudah terbit lebih dari 80 buku puisi esai. Bahkan kini puisi esai juga ditulis oleh penyair mancanegara. Pernah dibuat seminar sehari di Malaysia membahas puisi esai. Pesertanya sastrawan dan kritikus mancanegara.

Kini puisi esai akan berevolusi menjadi film. Akan pula tercatat ini serial film pertama yang keseluruhannya bersandar pada puisi. Dan itu adalah puisi esai.

Selama 7 tahun perjalanan, pro dan kontra puisi esai terjadi. Saya sudah menuliskan kredo puisi esai. Sayapun sudah pula merespon dengan tulisan aneka pihak yang kontra.

Tak kurang sastrawan dan kritikus manca negara menuliskan pula respon akademiknya.

Kini seluruh opini, argumen dan makalah soal puisi esai itu terkumpul dalam satu buku.

Selamat menikmati. Hal ihwal puisi esai sudah dihidangkan.*

(Pengantar Buku “Menjelaskan Puisi Esai: Visi Denny JA dan Respon Sastrawan serta Kritikus Indonesia + Mancanegara)

Penulis: Denny JA
Editor: Redaksi

Baca Juga