Nilai Pelaku Pembakaran Bendera Tak Ada Niat Jahat, MUI: Apakah Polisi Malaikat?

Abdul Chair Ramadhan, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (25/10/2018). Foto: Rahmi/Akuratnews.com
Abdul Chair Ramadhan, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (25/10/2018). Foto: Rahmi/Akuratnews.com

Jakarta, Akuratnews.com - Anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Abdul Chair Ramadhan mempertanyakan sikap kepolisian yang mengatakan pelaku pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid tidak melakukan tindak pidana karena tidak adanya niat jahat (mens rea) pelaku.

Menurut dia, mens rea adalah niat. Niat seseorang hanya bisa diketahui oleh pelaku dan Tuhan. Sehingga kata dia, sangat tidak mungkin pihak kepolisian mampu membuktikan bahwa seseorang tak memiliki niat jahat atau tidak.

"Bagaimana membuktikan niat. Niat itu urusan Allah. Ga ada yang tahu. Apakah polisi sudah jadi malaikat?" ujarnya dalam diskusi yang bertajuk "Membakar Bendera Tauhid, Penghinaan Terhadap Islam?" di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (25/10/2018).

Abdul Chair tidak menampik bahwa niat seseorang itu sulit dibuktikan, apalagi dalam melakukan kejahatan. Namun lanjut dia, mens rea masih bisa dinilai secara objektif.

Misalkan dengan melihat unsur kesengajaan pelaku yang merekam dan mempertontonkan aksi mereka di depan publik.

"Mereka itu yang melakukan pembakaran dengan sengaja dan mempertontonkan dengan sorak-sorai bergembira dengan gagahnya. Ini dengan sengaja. Ga mungkin dengan tidak sengaja. Dengan maksud yang jelas. Jadi kalau dibilang mens rea nya tidak ada, saya juga bingung," pungkas dia. (Rhm)

Penulis:

Baca Juga