Operasi “Intelijen Hitam” Cekal HRS di Saudi?

Habib Rizieq

Jakarta, Akuratnews.com - Front Pembela Islam (FPI) menduga ada upaya pemutarbalikan fakta atau propaganda melalui operasi "intelijen hitam" dalam pernyataan resmi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh.

Hal itu menyusul kabar pencekalan Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab (HRS) yang tidak dapat keluar dari Arab Saudi.

FPI menilai KBRI terkesan ingin menempatkan HRS sebagai pihak yang salah, karena alasan yang ingin diciptakan adalah over stay, yaitu visa HRS telah habis masa berlakunya. "Padahal over stay HRS akibat cekal, bukan cekal HRS gara-gara over stay. Dubes RI jangan memutar balikkan fakta," ujar Ketua Umum FPI, KH. Shobri Lubis dalam rilis yang diperoleh, Sabtu (29/9/2018).

Ia menjelaskan cekal terhadap HRS sejak 15 Juni 2018, sedangkan visa multy setahun HRS berlaku hingga 20 Juli 2018. Disebutkan tiga kali HRS dilarang saat akan berangkat keluar Saudi sebelum visa habis, yaitu tanggal 8, 12 serta 19 Juli 2018.

Artinya, kata Shobri, pada saat HRS akan meninggalkan wilayah Kerajaan Saudi, tidak ada permasalahan dengan visa, keimigrasian atau persoalan hukum lainnya.

"Dilarangnya HRS meninggalkan wilayah Saudi adalah atas permintaan intelijen. Maka dalam dunia intelijen hanya pihak intelijen negara asal WNI yang bisa melakukan pertukaran informasi dan sekaligus permintaan melalui saluran intelijen," tukas Shobri.

Ia lantas menegaskan informasi intelijen WNI tersebut bersifat negatif dan fitnah terhadap HRS. HRS sendiri dikatakan sudah memberi tahu Dubes RI untuk Saudi via telpon, serta via utusan Dubes RI yang datang ke rumah HRS di Mekkah jauh sebelum masa berlaku visa habis dan bahkan mengirim copy paspor beserta visanya melalui
sang utusan.

"Operasi Intelijen Hitam berhasil mencekal HRS sampai over stay agar ada alasan HRS ditahan," pungkas Shobri. (Ysf)

Penulis:

Baca Juga