Peranan Pers Pasca Pemilu: Kuncinya ada Pada Generasi Muda

Foto Hugeng Widodo/Akuratnews.com

Jakarta, Akuratnews.com - Untuk kembali merajut persatuan dan kesatuan pasca pemilu 2019, dibutuhkan peran Media Massa. Karut marut pilpres yang membelah masyarakat menjadi dua kubu berpengaruh menjadi perhatian penting sejumlah tokoh di dunia pers nasional.

Hingar bingar pemilu 2019 mewarnai kekhawatiran besar pecahnya indonesia dalam dua kubu. Perang besar terjadi di media sosial. Isu kecurangan masif hingga tragedi tewasnya 10 orang dalam aksi 21-22 Mei 2019 membelah netizen dalam berbagai kubu, baik 01, 02 maupun kubu lainnya.

Bahkan ada juga kubu yang dikenal sebagai kubu yang mendompleng maupun yang anti dengan 01 dan anti 02.

"Hoaks dapat muncul sekenanya dan siapapun bisa melakukan itu di Media Sosial," ujar Dhia Prekasha Yoedha, pengamat politik sekaligus Wartawan Senior dalam acara 'Diskusi Bareng Media Massa dengan Tema: Peran Aktif Media dan Generasi Muda Merajut Persatuan Pasca Pemilu 2019' yang digelar di Hotel Sofyan, Tebet, Jakarta, Senin (23/7/2019).

Menurut Dhia, saat pemilu berkembang Indonesia terbagi dalam berbagai kubu, diantaranya, kubu 01 Jokowi-Ma'ruf Amin, 02 Prabowo-Sandi, Kubu 03 yang ingin mendirikan Khilafah, Kubu 04 yang diinisialkan oleh Dhia sebagai Kubu Cendana, atau yang senada dengan kubu tersebut dan kubu 05.

"Kubu 04 ini yang unik, sebab ada di 01 dan ada juga di 02. Sementara kubu 03 cenderung ada di kubu 02." terang Dhia.

Sementara itu, KH. Abdul Fattah, Sekjen DPP IPI mengatakan, ancaman bagi Indonesia tidak saja muncul saat pilpres, namun juga pasca amandemen UUD 1945.

"Kalau saya melihat tidak hanya pasca pilpres tapi juga pasca amandemen UUD 45. Saya melihat ada kebebasan yang sebebas-bebasnya, yang mengarah pada gerakan inkonstitusional," terang Abdul Fattah.

Menurut Abdul Fattah, pasca pilpres ada peranan para pemain politik yang menjargonkan agama sebagai sebuah kepentinhan,

"Ironisnya, para 'pemain" ini banyak juga yang membungkus dengan agama. "Kalau ideologi-ideologi,a agama atau jargon agama masih berada dalam konteks konstitusional saya tidak khawatir. Yang bahaya jika sudah keluar dari Konstitusional," terang Abdul Fattah.

Sayangnya Abdul Fattah tidak mengupas lebih jauh siapa kelompok atau kepentingan yang membawa jargon agama. Kendati demikian, Abdul Fattah masih meyakini mayoritas rakyat Indonesia masih menginginkan NKRI, dan dari semua persoalan pasca pilpres, kuncinya ada pada generasi muda.

"Namun saya masih yakin bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih menginginkan negara Indonesia." Kata Abdul.

"Kuncinya ada pada generasi muda," tandas Abdul Fattah.

Berbeda dengan KH Abdul Fattah, Sekretaris PWI Jakarta, Kesit B. Handoyo mengatakan bagaimana pasca pilpres ini semua menjadi normal, namun yang sulit terkontrol ini adalah media sosial, bagaimana hal itu bisa terjadi?

Menurut Kesit, di era digital ini, begitu aruran baru akan dibuat, tetapi teknologi demikian cepat muncul sebelum aturan itu diberlakukan. Berbeda dengan era orde baru, meskipun beritanya benar, namun dalam pemberitaan masih dikontrol oleh Pemerintah.

"Aturan pemerintah saat itu begitu ketat. Sehingga meskipun beritanya benar, namun dalam pemberitaan masih dikontrol oleh Pemerintah orde baru," jelas Kesit.. Akibatnya, ada beberapa media massa sewaktu zaman orde baru yang dibredel pemerintah, seperti Sinar Harapan dan Tempo.

Namun saat ini berbeda. Dengan teknologi yang semakin maju, yang memudahkan masyarakat untuk menulis kejadian atau fakta yang dialaminya, pemerintah kesulitan untuk mengontrol media sosial, terlebih masyarakat saat ini lebih mempercayai medsos ketimbang media mainstream.

"Masyarakat lebih mempercayai media sosial ketimbang media mainstream. " Ujar Kesit. Namun kemudian, kelemahan dalam medsos adalah, berita-berita yang rilis di dalam medsos tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Saat ini, secara umum menurut Kesit, sudah waktunya masyarakat di Indonesia ini lebih dapat mempercayai media-media mainstream yang pemberitaannya lebih jelas atau dapat dipercaya ketimbang medsos. **

Penulis:

Baca Juga