2021, Hasil Pekerjaan Dinas PUBMSDA Sidoarjo Terindikasi Gagal Konstruksi. Apa Penyebabnya?

Dokumen perencanaan peningkatan Jalan Wonoplintahan - Jedongcangkring yang dinilai kurang wajar.
Dokumen perencanaan peningkatan Jalan Wonoplintahan - Jedongcangkring yang dinilai kurang wajar.

AKURATNEWS - Pekerjaan konstruksi di bawah tanggung jawab Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PUBMSDA Sidoarjo yang didanai APBD 2021, dinilai hasil pekerjaannya terindikasi bakal mengalami gagal konstruksi atau bangunan.

Penilaian itu sebagaimana diungkapkan Ketua DPD LSM Gerah Jatim, Jim Darwin pada Akuratnews.com, Minggu (19/9/2021), menanggapi temuan dari berbagai elemen masyarakat di lapangan.

"Intinya, pekerjaan konstruksi itu tak lepas dari hasil perencanaan, pengawasan dan pelaksanaan. Yakni, dari ketiga unsur yang merupakan satu kesatuan tak terpisah ini menghasilkan sebuah produk yang baik dan wajar," tandas Jim mengawali tanggapannya.

Indikasi hasil pekerjaan itu terbilang akan gagal konstruksi atau bangunan, sambung Jim, dia mencontohkan salah satu temuan dokumen perencanaan kurang wajar yaitu peningkatan Jalan Wonoplintahan - Jedongcangkring.

"Sesuai dokumen pekerjaan konstruksi peningkatan Jalan Wonoplintahan - Jedongcangkring, diduga konsultan perencana tidak melakukan uji sondir guna mengetahui kedalaman lapisan tanah keras. Padahal, setiap kedalaman lapisan tanah keras bisa diketahui sifat daya dukung dan daya lekat tanahnya. Tak pelak, menurut seorang pekerja di lokasi yang namanya enggan dipublikasikan saat dia melakukan pancang cerucuk. Dikatakan, beberapa cerucuk sepanjang 2 meter yang dia pancangkan ke tanah mendadak ambles, karena kondisi tanah di dalam sangat lembek," terangnya.

Selain itu, tambah Jim, konsultan perencana pun disinyalir tidak mengkaji hasil mutu beton pekerjaan sloof beton tanpa atau memakai plastik polytene untuk lapisan dalam begisting pada pekerjaan penahan jalan.

"Termasuk, galian untuk pemasangan u-ditch. Oleh karena, antara galian dengan u-ditch itu sendiri terlihat sama lebarnya, tentu tak ada celah pergerakan pemasangan u-ditch ini," ujarnya.

Berkaitan pekerjaan konstruksi peningkatan Jalan Wonoplintahan - Jedongcangkring itu, Jim menjelaskan, ada beberapa kejanggalan dalam dokumen perencanaannya.

"Pertama, dokumen perencanaan dibuat April 2008 silam; kedua, menganggarkan item pekerjaan penyiapan badan jalan, padahal tidak ada lapis pondasi agregat A; ketiga, tanpa kajian detil, minimal soal kedalaman pancang; keempat, dalam begisting untuk sloof tidak ada selimut plastik polytene; kelima, pemasangan u-ditch, antara galian dengan u-ditch sama lebarnya, sehingga tak ada celah pergerakan. Apa benar dudukan wiremesh masuk dalam perhitungan besi pada RAB?" urainya.

Jika dilihat adanya temuan kejanggalan tersebut, Jim beranggapan konsultan perencana pekerjaan konstruksi Dinas PUBMSDA Sidoarjo terkesan tidak serius.

"Terkadang saya berfikir, apakah sebelum membuat perencanaan, konsultan perencana sudah melakukan sosialisasi terhadap masyarakat setempat. Lalu, siapa yang akan bertanggung jawab bila terjadi gejolak warga, apakah konsultan perencana, konsultan pengawas atau kontraktor? Terus terang, saya akan melayangkan gugatan ke PTUN terkait masalah perencanaan pekerjaan konstruksi itu," pungkas pria yang getol mengkritisi persoalan pengadaan barang dan jasa, terutama jasa konstruksi di lingkungan pemerintah ini.

Penulis: Wachid Yulianto

Baca Juga