Opini

Guru Menghadapi Covid-19

Ilustrasi Pendidikan di Tengah Covid-19
Ilustrasi Pendidikan di Tengah Covid-19

Oleh : Agustin I. Pratiwi, S.Pd., Gr

Ketua P2G Kab. Pacitan-Guru SMA N Punung, Pacitan                                

Pandemi Covid-19. Semua tentu mengetahui dan menyadari bahwa hal ini merupakan sebuah bencana, malapetaka untuk negeri bahkan seluruh belahan dunia. Covid-19 ini bisa menyerang siapapun tanpa mengenal status, jenis kelamin, usia, dan golongan. Siapapun bisa terpapar virus ini. Awalnya saya pribadi ragu, apakah Covid-19 ini benar-benar ada. Nyatanya, saya yang tidak pergi kemana-mana, berusaha mematuhi protokol kesehatan dan tanpa merasakan gejala apapun bisa terpapar dan dinyatakan positif Covid-19.

Saat ini saya sedang menjalani perawatan di salah satu tempat yang telah disediakan di wilayah kami. Sementara anggota keluarga yang lain harus menjalani isolasi mandiri untuk kurang lebih 14 hari ke depan. Belum diketahui juga saya ini termasuk klaster darimana. Untunglah kegiatan sekolah tempat saya mengabdi sampai saat ini dilaksanakan secara luring maupun daring. Entah apa jadinya jika sekolah tetap masuk di tengah-tengah pandemi seperti saat ini, yang bahkan orang tanpa menunjukkan gejala apapun bisa dinyatakan positif Covid-19. Bisa-bisa sekolah menjadi klaster baru dalam penyebaran Covid-19.

Awal pandemi Covid-19 tiba-tiba semua aktifitas dilakukan dari rumah. Dilarang bepergian kalau tidak menyangkut hal yang terlalu penting. Bosen? Sudah pasti. Tapi ini akan lebih baik dilakukan dengan mengikuti anjuran pemerintah. Daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bukankah preventif lebih baik daripada kuratif? Memang betul, semuanya menjadi serbaribet. Jangankan siswa, yang selalu mengeluh pembelajaran dilakukan secara daring atau luring. Kami pun sebagai guru juga mengalami tantangan-tantangan baru, yang mau tidak mau harus kita jalani dan laksanakan.

Semenjak ada informasi bahwa sekolah harus ditutup dan pembelajaran tetap harus dijalankan secara daring/luring, hal ini juga membuat kami sebagai guru berpikir keras. Bagaimana tidak, tempat kami bukanlah di daerah perkotaan yang mudah mendapatkan akses internet. Tempat kami 80% adalah perbukitan. Terlebih tempat tinggal siswa-siswi kami. Tidak semua tempat di wilayah kami memiliki jaringan internet yang bagus. Selain terkendala jaringan internet, masih ada pula siswa yang tidak memiliki smartphone untuk menunjang pembelajaran yang dilaksanakan secara daring/luring.

Saya sendiri merasa beban kerja guru semakin bertambah. Kenapa bisa demikian? Tentu saja bisa. Sekali lagi saya tekankan bahwa tempat kami bukan daerah perkotaan, jaringan internet belum bisa diterima dengan baik di beberapa wilayah, dan siswa-siswi kami mayoritas berada di kalangan menengah ke bawah. Sudah tentu ini menjadi kendala dalam pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Kami pun merasa beban kerja bertambah. Yang awalnya hanya 8 jam sehari, kini bisa beralih menjadi 24 jam sehari. Selain terkendala jaringan internet, ada beberapa siswa yang tidak memiliki kuota internet. Ini berjalan beberapa bulan sebelum ada bantuan kuota internet dari pemerintah (Kemdikbud). Kami harus bersedia melayani siswa, menyesuaikan dan mempertimbangkan bagaimana kondisi dan keadaan mereka. Mana boleh di masa pandemi ini, sekolah tidak meluluskan/menaikkan siswa hanya gara-gara tidak mengikuti PJJ. Ini juga membuat dilematis di kalangan kami para guru.

Kami harus lebih aktif menghubungi siswa satu per satu. Melayani siswa tanpa mengenal waktu dengan penuh kesabaran. Seandainya pun kami memberikan batas waktu kepada siswa untuk menyelesaikan PJJ sesuai dengan jadwal, ujung-ujungnya kita sendiri sebagai guru juga kewalahan. Kewalahan menghubungi dan mengingatkan siswa satu per satu untuk segera menyelesaikan pembelajaran yang telah diberikan. Tentu ini bukan suatu hal yang mudah. Malah menambah beban, serasa kerja dua kali. Mau tidak mau ya harus kita laksanakan.

Belum lagi tuntutan administrasi yang membuat semuanya semakin ribet. Permintaan perangkat pembelajaran terbaru selama pandemi, juga pembuatan laporan PJJ yang harus disertai bukti baik dalam bentuk video/foto/screenshoot. Ini serasa ada mosi tidak percaya kepada kami. Kerja kami semakin banyak dan berlipat-lipat. Bisa dibayangkan bukan, betapa semakin banyaknya tugas guru.

Apakah di tengah-tengah pandemi ini tidak berlaku penyederhanaan adminstrasi pembelajaran bagi guru? Terkadang kami merasa bahwa semua itu formalitas. Buat lalu selesai dibuang. Besok buat lagi selesai dan dibuang lagi. Padahal beberapa pun ada yang hanya copy paste, asal-asalan buat. Tak memungkiri. Kalaupun tidak diakali seperti ini, mana mungkin pekerjaan akan selesai.

Belum membuat media, meng-upload, menilai, melayani dan menerima susulan siswa, masih juga membuat laporan. Padahal tugas kita juga tidak hanya ini-ini saja, terlebih untuk yang sudah berkeluarga. Miris, terkadang merasa tak sepadan. Dan kuncinya hanya satu, “ikhlas”. Selama ini pun belum pernah mendengar ada guru yang kaya raya. Yang ada ialah guru yang kaya hati.

Di samping itu semua, perlu diketahui bahwa tidak semua guru bias, bahkan mahir mengoperasikan komputer. Terlebih bagi guru senior yang sudah “sepuh” ataupun mendekati pensiun. Saya sendiri pun juga masih dalam proses belajar. Kegiatan pembelajaran yang awalnya dilaksanakan secara tatap muka dan akhirnya beralih PJJ, membuat guru mau tidak mau harus bisa mengoperasikan komputer dan aktif di media sosial, minimal Whats App (WA).

Karena WA adalah salah satu media sosial yang paling mudah diaplikasikan dan bisa diterima oleh siapa saja (mengingat kondisi wilayah). Kami pun sebagai guru juga sama-sama belajar. Beradaptasi dengan keadaan dan tututan yang harus diselesaikan. Tak jarang kami pun menerima nyinyiran, “enak ya jadi guru, makan gaji buta”. Untungnya stok sabar kami selalu powerfull.

Para pengambil kebijakan yang terhormat, beginilah tugas kami sebagai guru selama pandemi ini. Mohon dengan sangat, agar kebijakan-kebijakan yang diciptakan itu memang benar-benar untuk mensejahterakan guru. Kami memang bukan orang hebat. Tapi orang hebat itu ada berkat jasa para guru. Mohon jangan lagi ada keterlambatan penyaluran bantuan kuota internet. Karena hal ini benar-benar sangat membantu kami.

Bapak/Ibu pengambil kebijakan yang terhormat. Tolong pertimbangkan lagi rencana membuka kembali sekolah-sekolah di masa pandemi ini. Setidaknya setelah vaksin Covid-19 ini benar-benar sudah ditemukan dan diperoleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Jangan sampai muncul klaster baru dari sekolah-sekolah yang mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka. Jangan jadikan kami sebagi kelinci percobaan.

Kami sebagi guru, siap mendidik anak bangsa dengan segala kemampuan dan keterbatasan yang ada. Kami siap melaksanakan tugas negara mencerdaskan anak bangsa. Akan tetapi, jangan korbankan anak-anak di tengah wabah seperti saat ini. Mereka adalah ujung tombak bangsa dan negara. Lebih baik, fokus terhadap pemerataan saluran listrik dan jaringan internet.

Kami pun juga was-was apabila harus bepergian jauh untuk mengecek siswa yang tidak mengikuti PJJ. Karena tidak mungkin kami meninggalkan siswa tersebut yang pada akhirnya menghambat pendidikannya.

Dengan menunda pembukaan sekolah kembali, harapannya tidak akan timbul klaster baru dari sekolah. Pembelajaran tetap berjalan dan tentunya mencegah penyebaran virus Covid-19 sampai vaksin Covid-19 ini memang benar-benar ditemukan.

Baca Juga