Kelenteng Dijadikan Vihara, Gemaku Protes Dirjen Bimas Buddha

Jakarta,, Akuratnews.com - Peryataan Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama, Caliadi soal Kelenteng Kwan Sing Bio sebagai tempat ibadah Buddha Tri Dharma menuai protes keras.

“Kelenteng itu tempat ibadah Konghucu, itu sudah ada sejarahnya. Kok Dirjen Bimas Buddha seperti tidak paham sekali peraturan yang dibuat Kementerian Agama itu sendiri," tegas Ketua Umum Generasi Muda Konghucu (Gemaku), Js Kristan di Jakarta, Sabtu (19/8).

Lanjut Kristan, sampai saat ini tidak ada ajaran Buddha di Tri Dharma. Yang benar, Tri Dharma adalah organisasi kemasyarakatan yang dianut tiga ajaran yakni Konghucu, Tao, dan Buddha.

"Jadi kalau kelenteng dikatakan sebagai tempat ibadah Buddha itu keliru. Saya lagi menunggu klarifikasi Dirjen Bimas Buddha soal ini," ujarnya.

Menurut Kristan, sebagai pejabat negara dalam hal ini menjabat Dirjen Bimas Buddha, Caliadi seharusnya lebih paham terkait masalah peribadatan dan rumah ibadah.

"Sudah seharusnya beliau membaca Peraturan Pemerintah No 55/2007, dimana di dalam pasal 46 secara jelas menyebutkan kelenteng sebagai salah satu rumah ibadah umat Konghucu. Sedangkan untuk umat Buddha dalam pasal 44 disebutkan Vihara atau Cetya," ungkapnya.

Atas dasar itu, Gemaku meminta Dirjen Bimas Buddha, Caliadi untuk segera mengklarifikasi dan meminta maaf terkait dari pernyataannya yang keliru dan tidak berdasar serta telah menyakiti perasaan umat Konghucu.

"Jika hal ini tidak dilakukan, Gemaku akan melakukan somasi dan tidak menutup kemungkinan kami akan mengambil tindakan hukum menyikapi hal ini," tegasnya.

Sebelumnya, Ketua Penilik (demisioner) TTID Kwan Sing Bio meyakini bahwa kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban hingga saat ini masih digunakan sebagai tempat ibadah bersama bagi umat Tri Dharma. Yakni Konghucu, Buddha dan Aliran Tao.

Alim sendiri sudah melayangkan gugatan ke Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta Timur pada 11 September lalu dan mendesak Dirjen Bimas Buddha mencabut Surat Keputusan Tanda Daftar Rumah Ibadah Kelenteng Kwan Sing Bio yang hanya menjadikan kelenteng itu sebagai rumah ibadah umat Buddha.

”Dalam bahasa Tionghoa, terbaca Bio, dan Bio itu Kelenteng bukan Vihara dan rumah ibadah Buddha, hal ini yang harus dipahami,” ujar Alim.

Sementara itu, Dirjen Bimas Buddha, Kementerian Agama, Caliadi saat dikonfirmasi oleh wartawan melalui sambungan telepon tak kunjung menjawab.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga