Menunggu Pintu Bioskop Kembali Dibuka, Menanti Kerelaan Stakeholder Industri Film

Jakarta, Akuratnews.com - Banyak yang bertanya, jelang masuknya the new era, dimana sejumlah fasilitas publik mulai dibuka bagi umum, apakah bioskop, yang merupakan bagian dari industri film tanah air juga akan mulai dibuka?

"Bioskop akan beraktivitas kembali jika ada policy pemerintah. Bagaimana penggunaan ruangnya, bisa jadi hanya 50 persen penontonnya. Jujur, bioskop adalah jalur utama pemasukan film nasional," ujar Sidi Saleh, sineas dan praktisi perfilman Indonesia dalam Webinar bertajuk 'Mengawal Film Nasional Saat Tayang di Era New Normal', Jumat (12/6).

Sidi menambahkan, pemerintah harus punya metode yang jelas jika berencana membuka bioskop. Penerapan protokol kesehatan yang terukur misalnya.

Sutradara dan produser film Lola Amaria pun sepakat dengan hal tersebut. Protokol kesehatan khusus nonton film di bioskop hingga kini belum ada.

"Apalagi jam tayang bioskop di masa the new normal pasti ikut berubah. Sistemnya seperti apa dan berapa kali tayang,” kata produser film '6,9 Detik' ini.

Lola juga memahami kekhawatiran masyarakat yang tidak mau ambil resiko terpapar wabah Covid-19 saat pergi nonton film di bioskop.

“Dibutuhkan ide-ide baru yang fresh. Kalau dalam masa syuting kita bisa melakukan minimalisasi ongkos produksi. Tapi kalau mengacu pada standar kesehatan, biaya syuting akan melonjak tajam karena banyak rapid test yang dilakukan kepada sejumlah kru film,” papar Lola.

Aktris senior Niniek L. Karim menilai, dibutuhkan sebuah kebijaksanaan di masa sulit seperti saat ini. Sebuah ide pun dilontarkannya.

"Mengeluh juga percuma. Manusia mahluk berpikir, kita harus berpikir keras mengatasi persoalan ini. Misalnya dengan meminta pemerintah berbicara pada pemilik bioskop untuk menyediakan satu layar khusus yang menayangkan film-film nasional tanpa memikirkan untung rugi,” ujar Niniek.

Namun ide ini tak diamini pengusaha bioskop. Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), Djonny Syafruddin menilai, harus dibedakan antara urusan bisnis dan pribadi.

“Bisnis adalah bisnis. Kalau sedekah layar bioskop itu urusan lain,” tandas Djonny.

Menurutnya, jangan hanya bioskop yang harus berkorban. Selama ini, kalau film laku, produser film diam saja.

“Tapi kalau nggak laku, teriak-teriak,” tegas Djonny.

Dalam kesempatan ini, Koordinator Pokja Literasi Film, Direktorat PMMB Kemendikbud, Eldy Suwardi menegaskan, ekosistem perfilman harus tetap tumbuh dan terus hidup.

”Meski masih dalam wabah Covid-19. Pemerintah sebagaimana dikatakan Presiden tetap mendukung pertumbuhan film Indonesia,” kata Eldy.

Untuk diketahui, di medio 2020 ini, seperti diungkapkan pengamat film, Yan Widjaja, masih ada sisa 122 judul film nasional yang akan dan belum diputar bioskop.

Film-film nasional itu akan berdesakkan dengan 180 film barat yang juga menanti pemutarannya di bioskop.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga