Opini

Merdeka Belajar

AKURATNEWS - Pendidikan harusnya dan hendaknya membebaskan dan memerdekakan. Selama dalam proses belajar masih dijumpai adanya unsur paksaan dan hukuman, maka harapan anak murid belajar sesuai bakat, minat, dan kemampuannya hanyalah isapan jempol belaka.

Indikator konkret atas kemerdekaan dalam belajar adalah dijumpainya suasana dan ekspresi gembira dan gairah dari anak murid dalam belajar.

Gembira karena setiap keunikan dan potensi diri dipastikan tumbuhkembang secara optimal. Bergairah karena dalam prosesnya bebas dari rasa takut saat mencoba sesuatu yang baru. Tidak lagi dihantui oleh adanya hukuman atas kesalahan yang dilakukan.

Manusia sebagai insan pemelajar yang dikarunia akal budi oleh Sang Khalik, lengkap dengan segala keunikan dan potensi diri bawaan yang diwarisi dari kedua orangtuanya; selayaknya secara lahiriah tidak terperintah. Batinnya bisa memerintah diri sendiri untuk menjadi insan mandiri. Sepenuhnya sadar, bahwa tumbuhkembang potensi dan kemajuan diri menjadi tanggungjawab personal, dan bukan orang lain.

Seratus tahun silam, gagasan visioner atas pendidikan kebangsaan yang membebaskan dan memerdekaan telah diserukan oleh Ki Hadjar Dewantara lewat berdirinya Taman Siswa (1922 – 2022).

Sebagai daya-upaya menumbuhkembangkan budi pekerti, pendidikan seharusnya dan hendaknya mampu menajamkan pikiran (cipta), menghaluskan perasaan (rasa), dan menguatkan kehendak (karsa) di mana prosesnya dijauhkan dari unsur paksaan dan hukuman.

Pertanyaan reflektif dalam rangka memperingati dan memaknai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) – 2 Mei, bertemakan “Pimpin Pemulihan, Bergerak untuk Merdeka Belajar” adalah bagaimana dengan potret kualitas pendidikan di tanah air saat ini? Apakah setelah seabad, visi Ki Hadjar Dewantara perihal pendidikan yang membebaskan dan memerdekakan telah terejawantahkan?

Dalam waktu dekat, kurikulum pendidikan nasional akan segera beralih ke Kurikulum Merdeka; yang saat ini esensi, tujuan dan implementasinya sementara giat dan gencar didiseminasikan ke sekolah-sekolah. Sebagai anak bangsa, kita berharap adanya perubahan esensial pada proses pendidikan yang benar-benar membebaskan dan memerdekakan.

Alih-alih kecakapan anak murid mengalami pertumbuhan dan perkembangan, apabila aktivitas pembelajaran tereduksi sebagai aktivitas perpindahan pengetahuan, di mana prosesnya berlangsung secara menghafal dan disertai ancaman berupa hukuman, serta hanya berorientasi pada capaian angka rapor sekolah maka proses pendidikan telah tersesat (Ki Hadjar Dewantara, 1934)

Apabila fenomena ketersesatan sebagaimana yang dideskripsikan Ki Hadjar Dewantara masih dijumpai di hari ini, maka proses pendidikan menjadi kehilangan maknanya dan gagal dalam berkontribusi secara konkrit atas proses tumbuhkembang anak murid.

Situasi dan kondisi semacam inilah yang menurut Willingham (2009) dalam bukunya yang berjudul “Why don’t students like school?” yang menyebabkan siswa enggan untuk datang dan belajar di sekolah.

Perlu diingat, sejarah mencatat tak sedikit tokoh kelas dunia yang dulunya sempat keliru terdiagnosa. Thomas Edison, pernah dipulangkan dengan sebuah catatan yang mengatakan bahwa ia dianggap bodoh dan tidak punya harapan.

Louis Pasteur juga sempat mendapat predikat stempel bahwa ia merupakan siswa yang lambat belajar. Pun, sama halnya dengan Winston Churchill yang pernah dikeluarkan dari kelas bahasa Latin.

Dengan demikian, sekiranya dalam proses pendampingan dijumpai kekeliruan, usahlah tergesa-gesa memberikan penilaian, apalagi menghakimi. Kekeliruan seyogianya ditempatkan dan dipahami sebagai bagian dari proses tumbuhkembang.

Implementasi Kurikulum Merdeka diharapkan mampu menghadirkan PBM yang bermutu. PBM yang bermutu adalah proses belajar yang mampu membantu anak murid dalam mengenali dan menemukan potensi yang ada pada dirinya. Untuk itu, nantinya keterampilan yang dimiliki guru dalam mengajar (teaching) akan menjadi bermakna apabila diikuti dengan semakin berkembangnya kapasitas anak murid dalam belajar (learning).

Kiranya gema pesan dan teladan Ki Hadjar Dewantara menyadarkan dan menyalakan kembali spirit para insan pendidik di tanah air dalam meneladankan dan menghidupi semboyan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” (di depan menjadi teladan, di tengah turut membangun semangat, di belakang memberikan dorongan).

Peringatan dan pemaknaan Hardiknas dalam suasana pemulihan dari pandemi, kiranya menjadi penyemangat bagi para insan pendidik dalam menjaga agar pijar spiritnya tetap menyala, bahkan diharapkan justru semakin berkobar dalam menghidupi dan memaknai panggilan karya, mencerdaskan kehidupan bangsa.***

Penulis Oleh: Thio Hok Lay, S. Si
Teaching Learning Curriculum Department, Yayasan Citra Berkat, Jakarta

Baca Juga