Sengketa Pembelian Excavator

PT. Indotruck Utama Siap Fasilitasi Pengambilan Excavator di Nabire

Pengacara PT. Indotruck Utama, Yudistira. (Foto dok. Akuratnews.com).

Jakarta, Akuratnews.com - Perkara Sengketa pembelian Excavator merek Volvo EC 210 seharga Rp. 1,265 miliar antara Arwan Koty dengan PT. Indotruck Utama telah memasuki sidang ke empat di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) DKI Jakarta. Sidang ini seyogyanya menjadi jalan bagi keduanya untuk mencapai titik kesepakatan. Namun dari pantauan akuratnews.com, agaknya win-win solution untuk mengakhiri sengketa ini sulit untuk terwujud.

Pengacara PT. Indotruck Utama, Yudistira menjelaskan bahwa hasil persidangan sudah mengerucut pada kesepakatan. Menurut Yudistira, pihak pemohon (Arwan Koty) sudah mengakui bahwa merekalah (Arwan Koty melalui istrinya Vini) yang menyuruh dan membayar Soleh (Forwarding).

“Tadi dipersidangan ibu Vini Fong sudah mengakui beberapa hal yang diingkari sebelumnya, termasuk yang dia membayar Soleh. Terkait dalam pengambilan barang, kita siap menfasilitasi untuk melihat barang itu ke Nabire. Kalau dikatakan barang tidak bisa diambil dari penitipan di Polair mari kita sama-sama. Dokumen kita lengkapi,” Kata Yudistira seperti dikutip Wartawan Radar Online, Senin (15/7/2019).

Dia menjelaskan bahwa ada kesalahpahaman terkait dengan dokumen kepemilikan escavator yang berbeda dengan kendaraan bermotor lainnya. Jika kendaraan bermotor lainnya, memilik BPKB dan STNK, namun, kalau alat berat tidaklah demikian, surat kepemilikan itu hanya berbentuk Perjanjian Jual Beli (PJB), Invoice dan bukti pembayaran. Karena disitu katanya ada serial membernya. Serial nomer unit tiap-tiap excavator.

Demikian juga terkait penitipan excavator di Polair Nabire yang katanya sudah diketahui pemohon dan ada tanda tangan penitipan dari pemohon. Menurut Yudistira, itu bukan keterangan dari PT. Indotruck Utama namun keterangan dari Polair.

“Terkait barang (excavator) yang sudah diterima dan dititipkan di Polair bukan keterangan kami, tetapi itu keterangan Polair yang menyebutkan bahwa barang itu dititipkan oleh Sofiansyah yang diketahui oleh Vini Fong istri dari Arwan Koty,” tegas Yudistira.

Ketika ditanyakan, kenapa excavator yang ada di Polair Nabire tidak dapat diambil oleh keluarga Arwan Koty? Menurut Yudistira PT. Indotruck Utama siap memfasilitasi pengambilannya di Nabire. Yudistira juga menjelaskan hasil penjelasan ahli terkait HO Excavator masih wajar.

Hasil konfirmasi pada bulan Agustus 2018 jelas kilometer masih tahap wajar hitungan pemanasan tiap hari 2 jam dihidupkan. Karena HO itu berjalan begitu mesin hidup. Jadi perputaran HO itu hitungan jam mesin dihidupkan. “Karena sistim kerjanya escavator itukan kebanyakan diam di tempat mengerjakan pekerjaan. Beda dengan mobil km bergerak sesuai putaran ban berjalan,” Tandasnya.

Tanggapan Kuasa Hukum dan Keluarga Arwan Koty

Menanggapi pernyataan Pengacara PT. Indotruck Utama, Wilibrodus Ardi, Tim Kuasa Hukum Arwan Koty yang didampingi langsung oleh Arwan Koty mengatakan sikap dari PT. Indotruck masih belum jelas.

“Mereka hanya mengulur-ulur waktu saja. Kita berharap PT. Indotruck Utama 'Refunding' saja. Itu mungkin yang lebih baik. Kami sudah lelah. Kita masih banyak urusan,” Tandas Willidradus.

Hal senada juga diamini oleh istri Arwan Koty, Vini Fong yang menginginkan dana pembelian excavator yang sudah dibayar lunas dikembalikan. “Saya mau Refunding aja,” tegas Vini Fong yang dihubungi lewat telepon.

Ketika ditanya, apakah menuntut bunga uang seandainya termohon mau Refunding? Tegas Vini Fong menjawab, "Tidak!, Uang saya kembali, cukup! Saya tidak mengharapkan bunga,” Tandasnya.

Diketahui, Perselisihan antara pihak keluarga Arwan Koty dengan pihak PT. Indotruck Utama bermula dari transaksi antara Arwan Koty bersama anaknya yang bernama Alfin telah membeli, masing-masing, 1 unit Excavator merek Volvo kepada PT. Indotruck Utama. Transaksi jual beli antara Arwan Koty dengan PT. Indotruck Utama dilakukan untuk pembelian 1 unit Excavator Volvo EC 210D seharga Rp1,265 miliar. Sedangkan transaksi jual beli antara Alfin dengan PT. Indotruck Utama dilakukan untuk pembelian 1 Unit Crawler Excavator EC350D seharga Rp2,960 miliar.

Kedua Transaksi itu terjadi pada tahun 2017. Saat itu, baik Arwan maupun Alfin telah membayar pelunasan pembelian Excavator sesuai dengan harga yang diberikan oleh PT. Indotruck Utama, termasuk membayar biaya pengiriman kedua alat berat itu ke Nabire-Papua.

Namun, persoalan timbul setelah pembayaran telah dilakukan. Menurut keluarga Arwan Koty, kedua alat berat itu tak kunjung diserahterimakan kepada Arwan dan Alfin. Atas dasar itulah, Arwan Koty kemudian mengadukan persoalan pembelian excavator ini ke BPSK. Namun pengaduan pembelian excavator ke BPSK hanya untuk sengketa pembelian yang dilakukan Arwan Koty saja sedangkan pembelian Alfin, tidak diajukan di BPSK.**

Penulis:

Baca Juga