PTI Bantu Penyandang Tuli Berdaya Secara Ekonomi

Jakarta, Akuratnews.com - Saat ini, gerakan sosial seharusnya bertransformasi dalam bentuk kewirausahaan sosial guna menjadi basis keadilan ekonomi, terutama saat masyarakat tengah melakukan pemulihan ekonomi di era pandemi Covid-19.

Pesan inilah yang disampaikan Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM), Teten Masduki di penutupan Program Pelatihan Wirausaha Berbasis Kuliner untuk para penyandang tuli yang diselenggarakan Perempuan Tangguh Indonesia (PTI), baru-baru ini.

Untuk diketahui, PTI telah menyelenggarakan pelatihan wirausaha kuliner ini sejak 8 Agustus 2020 bekerjasama dengan Sekolah Highscope Indonesia Bintaro Care.

Menkop sendiri menyatakan dukungannya terhadap program pelatihan kewirausahaan yang digagas PTI ini.

“Pemerintah sedang mempersiapkan sebuah kebijakan afirmatif (affirmative action policy) untuk kelompok masyarakat penyandang disabilitas agar mereka dapat berpartisipasi dan terbangun sistem ekonomi inklusif sebagaimana telah diperkenalkan Presiden Jokowi,” ujar Teten.

Teten selanjutnya menuturkan bahwa upaya mencapai keadilan sosial memang harus berbasis pada gerakan sosial yang bertransformasi menjadi kewirausahaan sosial atau social entrepreneur.

“Mengapa demikian? Agar dari gerakan sosial ini lahir kekuatan ekonomi yang pada gilirannya membuat gerakan sosial lebih sustainable dan berdampak pada kemajuan masyarakat. Salah satu yang harus juga diperhatikan adalah gerakan ini harus mampu memutus rantai kemiskinan pada kelompok masyarakat rentan dengan upaya serius mencegah terputusnya pendidikan untuk anak-anak dan remaja. Karena hanya dengan pendidikan lah, baik formal maupun pelatihan vokasional, rantai kemiskinan akan terputus dan generasi masyarakat selanjutnya akan lebih sejahtera dan mandiri," ujarnya.

Teten menyambut baik upaya PTI menyelenggarakan pelatihan dengan target penyandang disabilitas. Karena tanpa dukungan berbagai pihak, mereka tidak akan dapat bertahan dari berbagai kompetisi yang ada dalam masyarakat.

"Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini, mengembangkan kewirausahaan sosial bukanlah hal yang sulit, karena sumber daya dukung termasuk dukungan finansial juga bertransformasi," jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Pelatihan Kewirausahaan untuk Penyandang Tuli PTI, Yenee Krisnandari menjelaskan, pelatihan yang telah diselenggarakan sejak 8 Agustus ini terdiri dari serangkaian kegiatan latih dari mulai pertemuan tatap muka, penumbuhan motivasi yang disampaikan Dimas, seorang Tuna Netra yang saat ini aktif membangun Komunitas Kartunet melalui Platfrom onlinenya.

Kemudian dilanjutkan dengan praktek bersama dua chef professional yang didukung oleh Silafara Carter Catering. Lalu kelas daring dengan topik Membuat Kemasan Menarik ala CEO Dus Duk Duk Arief.

Kemudian Dasar-dasar Mengatur Keuangan Bisnis oleh Hydansyah hingga Pemasaran Digital yang disampaikan Lili Hasnah.

“Di penutupan acara pelatihan ini, kami telah mulai melakukan pemasaran dari produk teman-teman penyandang tuli ini. Respon masyarakat untuk membeli produk mereka sangat membanggakan, terutama upaya dari ibu-ibu yang tergabung dalam PTI untuk ikut mempromosikan produk ini. Kehadiran Menteri Koperasi dan UKM juga sungguh membuat teman-teman penyandang tuli menjadi sangat optimis bahwa pemerintah memperhatikan dan memberikan dukungan bagi mereka,” ujar Yenee.

Seusai penutupan kegiatan pelatihan, acara dilanjutkan dengan Sesi Demo Dessert Cake yang dipraktekkan langsung oleh Chef Ikra dari Modena, dan prosesi Wisuda sekaligus pemberian sertifikat pelatihan dan goodie bag dari Modena. “Kegiatan ini sangat positif dan kami senang memberikan dukungan, memberikan semua yang terbaik sehingga para peserta semakin bersemangat dan bisa bermimpi lalu bersemangat untuk mewujudkannya,” ujar Lany Kwarso dari Modena Indonesia ketika dimintai pendapat.

Ketua Umum PTI, Myra Winarko, menambahkan, Pelatihan Wirausaha Berbasis Kuliner angkatan pertama ini menjadi bukti bahwa PTI telah mengusung program yang tepat untuk terus memberdayakan teman-teman disabilitas dengan harapan mereka mampu menjadi SDM yang kaya akan keterampilan di bidang kuliner, mampu bersaing, dan mandiri secara finansial.

"Ini akan menjadi model utama gerakan sosial Perempuan Tangguh Indonesia, yaitu gerakan sosial yang bertransformasi menjadi berbagai kewirausahaan sosial, yang berdampak terhadap kesejahteraan rakyat dan kemajuan bangsa," pungkasnya.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga